Transaksi QRIS Lintas Negara Tembus Rp1,52 Triliun, BI Perluas Jaringan ke Timur Tengah dan Asia
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS antarnegara net inbound Rp1,52 triliun pada kuartal II 2026, didorong lonjakan transaksi inbound.
- Ekspansi QRIS ke Arab Saudi, India, dan Hong Kong tengah dijajaki, namun terkendala kesiapan regulasi dan infrastruktur mitra.
- Dominasi transaksi inbound menunjukkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan wisata dan bisnis, memperkuat posisi rupiah di kawasan.

Bank Indonesia (BI) mencatat lonjakan signifikan transaksi QRIS antarnegara pada kuartal II 2026, dengan nilai net inbound mencapai Rp1,52 triliun. Angka ini mencerminkan meningkatnya adopsi sistem pembayaran lintas batas di tengah pemulihan ekonomi dan mobilitas global.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengungkapkan, transaksi inbound—pembayaran oleh warga negara asing di Indonesia—mencapai Rp1,85 triliun, sementara transaksi outbound oleh warga Indonesia di luar negeri hanya sekitar Rp330 miliar. Selisih positif ini menunjukkan bahwa QRIS semakin menjadi pilihan utama wisatawan dan pelaku bisnis asing saat bertransaksi di Indonesia.
“Ini bukti bahwa QRIS tidak hanya memudahkan transaksi domestik, tetapi juga menjadi alat pembayaran yang diandalkan di kancah internasional,” ujar Filianingsih dalam paparan di Jakarta, Rabu (22/7).
BI terus memperluas kerja sama bilateral dengan negara-negara mitra. Saat ini, otoritas moneter masih menjajaki penggunaan QRIS dengan Arab Saudi, India, dan Hong Kong. Namun, implementasi belum bisa dilakukan secara serempak karena setiap negara memiliki tingkat kesiapan yang berbeda, terutama dalam hal regulasi, infrastruktur teknologi, dan koordinasi antar otoritas.
Bagi Indonesia, perluasan QRIS antarnegara memiliki dampak strategis. Pertama, memperkuat posisi rupiah dalam transaksi internasional. Kedua, mendorong sektor pariwisata dan UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Ketiga, mengurangi ketergantungan pada mata uang asing dalam transaksi lintas batas.
Namun, tantangan masih membayangi. Kesiapan mitra dagang menjadi kunci utama. India, misalnya, memiliki sistem pembayaran digital yang sudah maju dengan Unified Payments Interface (UPI), sehingga integrasi teknis perlu diselaraskan. Sementara Arab Saudi tengah mempersiapkan infrastruktur untuk menyambut jutaan jemaah umrah dan haji yang bisa memanfaatkan QRIS.
“Kami harus memastikan setiap negara mitra memiliki regulasi yang mendukung, infrastruktur yang andal, serta kesepakatan teknis yang matang. Ini bukan proses instan,” tegas Filianingsih.
Ke depan, BI menargetkan perluasan QRIS ke lebih banyak negara, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mempertahankan momentum pertumbuhan transaksi inbound di tengah persaingan sistem pembayaran global seperti Alipay dan WeChat Pay?



