SRBI Jadi Andalan BI Jinakkan Rupiah, Modal Asing Mengalir Deras
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga SRBI untuk menarik investasi portofolio asing, yang berhasil memperkuat rupiah ke Rp17.885 per dolar AS.
- Kepemilikan nonresiden di SRBI melonjak Rp50,56 triliun dalam sebulan, mencerminkan kepercayaan asing pada instrumen moneter domestik.
- Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa BI mengandalkan instrumen pasar uang ketimbang kenaikan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Bank Indonesia (BI) kembali mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai senjata utama untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Langkah ini terbukti efektif: rupiah yang sempat terpuruk akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve berhasil dipulihkan ke level Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026, hanya terpaut tipis dari posisi akhir Juni di Rp17.880.
Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam paparan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22 Juli, menegaskan bahwa kenaikan suku bunga SRBI menjadi instrumen kunci untuk menarik aliran modal asing. โSuku bunga SRBI dinaikkan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah,โ ujarnya. Perry juga mengungkapkan bahwa BI terus mengoptimalkan intervensi di pasar nondeliverable forward (NDF) luar negeri serta transaksi spot dan DNDF di dalam negeri untuk menjaga momentum penguatan.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan bahwa bank sentral tidak perlu menaikkan suku bunga acuan karena insentif SRBI sudah cukup menarik. โInsentif SRBI dengan spread menarik sehingga dapat menarik inflow ke dalam portofolio investment kita,โ tegasnya. Strategi ini menunjukkan pergeseran taktik BI: alih-alih menaikkan BI Rate yang berpotensi menekan pertumbuhan, bank sentral memilih mempercantik imbal hasil instrumen jangka pendek untuk memikat investor asing.
Bagi investor Indonesia, langkah ini membawa angin segar. Aliran modal asing yang deras ke SRBI tidak hanya menopang rupiah tetapi juga memberikan likuiditas tambahan bagi pasar keuangan domestik. Namun, ada risiko tersembunyi: ketergantungan pada modal asing portofolio bisa menjadi bumerang jika sentimen global berbalik. Konflik Timur Tengah yang masih membara dan ketidakpastian suku bunga The Fed tetap menjadi momok yang bisa memicu arus keluar mendadak.
Ke depan, efektivitas SRBI sebagai alat stabilisasi akan sangat bergantung pada konsistensi BI dalam menjaga daya tarik imbal hasil di tengah kompetisi global. Apakah investor asing akan terus bertahan jika tekanan eksternal kembali meningkat? Ataukah BI perlu menyiapkan bantalan tambahan? Jawabannya akan menentukan apakah rupiah bisa bertahan di zona nyaman atau kembali terombang-ambing.



