Tragedi Proyek Hidroelektrik Sikkim: 20 Tewas, Metana dan Air Jadi Hambatan Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Longsoran terowongan proyek PLTA di Sikkim, India timur laut, menewaskan sedikitnya 20 pekerja dan menjebak 25 orang.
- Kebocoran metana dari batuan bawah tanah serta genangan air setinggi 0,76 meter menghambat tim penyelamat dalam mengevakuasi korban.
- Insiden ini memicu kembali kritik terhadap proyek infrastruktur besar di kawasan Himalaya yang rawan bencana, mengingatkan pada tragedi serupa di Uttarakhand tahun 2023.

Sedikitnya 20 pekerja tewas setelah terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di negara bagian Sikkim, India timur laut, runtuh pada Senin (21/7). Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan konstruksi paling mematikan di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir, memicu kembali kekhawatiran akan keselamatan proyek infrastruktur di daerah rawan bencana.
Menurut Rajiv Roka, Direktur Otoritas Manajemen Bencana Negara Bagian Sikkim, dari 25 pekerja yang terjebak di dalam terowongan, 13 jenazah telah berhasil dievakuasi. Namun, tim penyelamat masih melihat tujuh hingga delapan jenazah lainnya di dalam reruntuhan yang belum dapat dijangkau. "Melihat kondisinya, saya rasa tidak ada yang selamat," ujar Roka kepada AFP.
Proses evakuasi terhambat oleh dua faktor utama: genangan air setinggi 0,76 meter dan kebocoran gas metana dari formasi batuan bawah tanah. Perusahaan Nasional Tenaga Hidroelektrik India (NHPC) dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa runtuhnya terowongan dipicu oleh "pelepasan eksplosif gas metana yang terperangkap di dalam batuan", yang kemudian menghasilkan asap tebal dan gas beracun. NHPC berjanji akan melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap penyebab pasti insiden ini.
Kecelakaan ini terjadi di tengah musim hujan deras yang melanda kawasan tersebut, memperparah kondisi di lokasi bencana. Para ahli lingkungan menilai bahwa proyek pembangunan besar-besaran di kawasan Himalaya yang rapuh secara ekologis telah meningkatkan risiko bencana. "Aktivitas konstruksi yang masif, termasuk terowongan dan bendungan, mengganggu keseimbangan geologis alami, memicu longsor dan pelepasan gas," ujar seorang pakar geologi yang enggan disebutkan namanya.
Insiden ini mengingatkan pada tragedi serupa di Uttarakhand pada 2023, di mana 41 pekerja terjebak selama 17 hari di terowongan jalan yang runtuh. Meski semua berhasil diselamatkan, kasus tersebut menyoroti lemahnya standar keselamatan di proyek-proyek infrastruktur India. Bagi Indonesia, negara dengan kondisi geografis serupa—rawan gempa dan longsor—kecelakaan ini menjadi pengingat pentingnya audit keselamatan ketat pada proyek-proyek strategis, terutama di daerah pegunungan seperti Papua atau Jawa Barat.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pemerintah India dan perusahaan terkait benar-benar mengevaluasi ulang praktik konstruksi di Himalaya, atau tragedi ini hanya akan menjadi catatan kaki lain dalam daftar panjang kecelakaan proyek infrastruktur?



