Quad dan ASEAN Pererat Kerja Sama: Sinyal Baru di Tengah Ketegangan Laut China Selatan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Jepang, AS, Australia, dan India sepakat memperdalam kemitraan strategis dengan ASEAN dalam bidang keamanan maritim dan teknologi.
- Pertemuan Quad di Manila menegaskan posisi ASEAN sebagai poros utama stabilitas Indo-Pasifik di tengah meningkatnya aktivitas China di kawasan.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi dinamika geopolitik Indonesia sebagai anggota ASEAN yang memiliki kepentingan langsung di Laut China Selatan.

Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, mendesak negara-negara anggota ASEAN untuk memperkuat kerja sama pertahanan wilayah dan perairan yurisdiksi mereka di tengah kekhawatiran atas aksi China yang semakin agresif di kawasan. Seruan itu disampaikan dalam pertemuan bilateral Jepang-ASEAN di Manila, Rabu (22/7).
Dalam forum tersebut, Motegi menegaskan bahwa ASEAN merupakan pilar utama visi Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, serta mitra yang tak tergantikan dalam mewujudkannya. “Tatanan internasional berbasis aturan yang kita bangun selama bertahun-tahun kini menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya. Ia berjanji akan meningkatkan kerja sama dengan ASEAN di bidang keamanan ekonomi, termasuk rantai pasok mineral kritis, serta dukungan di bidang kecerdasan buatan dan penanggulangan bencana.
Sebelumnya, para menteri luar negeri dari empat negara Quad—Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan India—menegaskan kembali komitmen mereka untuk bekerja sama lebih erat dengan ASEAN sebagai “mitra strategis komprehensif”. Mereka sepakat memperluas kolaborasi di bidang keamanan maritim, teknologi baru dan berkembang, serta bantuan kemanusiaan berdasarkan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific. “Perdamaian dan stabilitas di kawasan maritim Indo-Pasifik menjadi fondasi keamanan dan kemakmuran kawasan,” demikian pernyataan bersama mereka.
Pertemuan ini menandai akselerasi diplomasi Quad setelah rencana KTT di India tahun lalu batal akibat memburuknya hubungan AS-India terkait pembelian minyak mentah Rusia oleh New Delhi di tengah perang Ukraina. Kini, dengan agenda yang lebih terfokus pada kerja sama konkret, Quad berusaha membangun momentum baru.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai anggota ASEAN yang berbatasan dengan Laut China Selatan, Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas kawasan tanpa terjebak dalam polarisasi blok kekuatan. Penguatan kerja sama Quad-ASEAN dapat memberikan alternatif bagi Jakarta untuk memperkuat posisi tawarnya dalam negosiasi dengan Beijing, terutama terkait Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di sekitar Natuna. Namun, Indonesia juga harus cermat menjaga keseimbangan agar tidak memicu ketegangan dengan mitra dagang utamanya, China.
Para analis menilai bahwa langkah Quad ini merupakan respons atas meningkatnya aktivitas militer China di Laut China Selatan, termasuk klaim sembilan garis putus-putus yang tidak diakui hukum internasional. “ASEAN berada di posisi sulit: di satu sisi membutuhkan investasi China, di sisi lain tidak ingin kedaulatannya terusik,” ujar pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia. Ia menambahkan bahwa pendekatan Quad yang menekankan kerja sama non-militer seperti teknologi dan bantuan kemanusiaan bisa menjadi jalan tengah yang lebih diterima.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Quad mampu mempertahankan soliditas di tengah perbedaan kepentingan antar anggotanya, terutama antara AS dan India. Jika KTT Quad benar-benar terwujud tahun ini, hal itu akan menjadi ujian nyata bagi komitmen keempat negara terhadap stabilitas Indo-Pasifik. Bagi Indonesia, momen ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong arsitektur keamanan regional yang lebih inklusif, bukan eksklusif.



