Gencatan Senjata Tak Hentikan Serangan: Israel Kembali Hantam Lebanon, Tiga Tewas
Baca dalam 60 detik
- Serangan Israel di Lebanon selatan dan timur menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 23 lainnya, meski gencatan senjata dengan Hizbullah masih berlaku.
- Korban tewas termasuk dua pemuda di Nabatieh dan satu warga di Rmadiyeh, dengan enam petugas penyelamat ikut terluka saat bertugas.
- Insiden ini menyoroti rapuhnya gencatan senjata dan meningkatnya ketegangan di kawasan, berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.

Serangan udara Israel di wilayah selatan dan timur Lebanon pada Jumat malam (4/9) menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 23 lainnya, menurut kementerian kesehatan setempat. Agresi ini terjadi hanya sehari setelah Israel mengklaim telah menguasai sebuah bukit strategis di dekat perbatasan, dan di tengah gencatan senjata yang rapuh dengan kelompok Hizbullah.
Kementerian Kesehatan Lebanon dalam pernyataannya menyebutkan, serangan menghantam lima lokasi di wilayah selatan Tirus dan Nabatieh serta wilayah Bekaa di timur. Jumlah korban ini merupakan pembaruan dari laporan awal media resmi Lebanon yang menyebutkan dua kematian di selatan. Dua pria muda tewas saat mengendarai sepeda motor di kota Nabatieh, sementara satu korban lainnya dilaporkan tewas di desa Rmadiyeh, kawasan Tirus, yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari perbatasan Israel.
Di Rmadiyeh, yang menjadi tempat penampungan warga yang mengungsi dari daerah selatan lainnya, serangan menghantam sebuah rumah. Selain satu korban tewas, 15 orang lainnya luka-luka, termasuk dua anak-anak, tiga perempuan, dan enam petugas penyelamat. Sumber dari layanan penyelamat mengatakan kepada AFP bahwa serangan itu menyasar sebuah rumah di desa tersebut.
Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang disepakati antara Israel dan Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran. Namun, sejak Maret lalu, kedua pihak saling serang setelah Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam perang Timur Tengah yang lebih luas dengan menyerang Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Israel merespons dengan serangan udara dan invasi darat yang menurut Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.300 orang.
Ketegangan terbaru dipicu oleh pengumuman Israel pada Kamis bahwa mereka telah mengambil alih kawasan punggung bukit Ali al-Taher. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan militer akan berupaya "mencegah musuh membangun kembali kekuatannya di kawasan itu". Namun, Hizbullah tidak mengonfirmasi kehilangan wilayah tersebut, dan serangan balasan terus berlanjut.
Konflik antara Israel dan Hizbullah sebenarnya telah mereda sejak adanya nota kesepahaman AS-Iran dan perjanjian kerangka kerja antara Israel dan Lebanon pada Juni lalu. Namun, Beirut masih melaporkan serangan-serangan Israel. Koordinator kemanusiaan PBB untuk Lebanon, Imran Riza, melalui akun X-nya pada Jumat mengatakan bahwa keluarga yang kembali ke Nabatieh setelah gencatan senjata "menghadapi kehancuran yang meluas, kurangnya layanan dasar, ketidakamanan yang berkelanjutan, dan ketidakpastian".
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki relevansi langsung. Ribuan WNI bekerja dan tinggal di Lebanon, dan setiap eskalasi berpotensi mengancam keselamatan mereka. Selain itu, Indonesia secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam pendudukan Israel, sehingga dinamika di Timur Tengah selalu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan publik Indonesia. Serangan yang terus berlanjut ini juga dapat memicu gelombang pengungsi baru dan ketidakstabilan kawasan yang lebih luas, yang berdampak pada harga minyak dan ekonomi global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata yang rapuh ini dapat bertahan, atau justru akan runtuh dan memicu perang skala penuh. Israel tampaknya bertekad untuk menghancurkan infrastruktur Hizbullah di selatan Lebanon, sementara Hizbullah tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Masyarakat internasional, termasuk Indonesia, perlu mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan, sebelum korban jiwa terus berjatuhan dan krisis kemanusiaan semakin dalam.



