AHY Tegaskan Kekuasaan Milik Rakyat, Bukan Individu: Pesan di HUT ke-25 Demokrat
Baca dalam 60 detik
- Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, mengingatkan kader bahwa kekuasaan adalah amanah rakyat yang dibatasi waktu.
- Pernyataan ini muncul dalam perayaan HUT ke-25 Demokrat, menegaskan komitmen partai pada demokrasi dan rotasi kepemimpinan yang sehat.
- AHY merujuk pada era SBY sebagai contoh transisi kekuasaan yang damai, sekaligus menyiratkan kritik terhadap potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), melontarkan peringatan tegas di hadapan kader partainya: kekuasaan bukanlah properti pribadi yang dapat digenggam seumur hidup, melainkan amanah rakyat yang memiliki batas waktu. Pesan ini disampaikan AHY dalam pidatonya pada perayaan ulang tahun ke-25 Partai Demokrat di Gedung DPP Demokrat, Jakarta, Sabtu (โฆ).
Pernyataan AHY tersebut bukan sekadar retorika politik. Di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai isu perpanjangan masa jabatan dan dinasti politik, penegasan ini menjadi sinyal penting dari partai berlambang mercy itu. AHY menekankan bahwa prinsip limitasi kekuasaan harus dipegang teguh oleh seluruh kader untuk menjaga iklim demokrasi Indonesia tetap sehat. โKekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu,โ ujarnya, menggarisbawahi bahwa demokrasi memberikan hak kepada masyarakat untuk memilih dan dipilih, sebuah hak yang tidak boleh tereduksi oleh ambisi segelintir orang.
Lebih jauh, AHY mengajak kadernya untuk menjadikan pengalaman sepuluh tahun pemerintahan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai pelajaran berharga. Menurutnya, transisi kepemimpinan yang terjadi setelah dua periode SBY menjadi bukti bahwa pergantian kekuasaan dapat berlangsung damai dan demokratis. โKita patut belajar dari 10 tahun pemerintahan Presiden SBY, termasuk ketika pergantian kekuasaan berlangsung damai,โ kata AHY. Contoh historis ini, menurut pengamat politik, sengaja diangkat untuk menegaskan komitmen Demokrat pada konstitusi dan proses demokrasi yang mapan.
Peringatan AHY ini muncul di saat publik tengah mengamati dinamika politik menjelang pemilu, dengan sejumlah isu seperti potensi penundaan pemilu dan wacana perpanjangan masa jabatan presiden yang sempat mengemuka. Meski AHY tidak secara eksplisit menyebut pihak tertentu, pernyataannya dapat dibaca sebagai kritik terhadap upaya-upaya yang dianggap menggerus sendi-sendi demokrasi. Ia menegaskan bahwa pemilu harus berjalan ideal, aman, dan amanah. โSiapa pun yang menang harus menang karena mendapatkan kepercayaan rakyat dan siapa pun yang kalah harus menghormati kehendak rakyat,โ tegasnya, menekankan pentingnya legitimasi dan sportivitas dalam kontestasi politik.
Acara HUT ke-25 ini juga dihadiri sejumlah petinggi partai, termasuk Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat SBY, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Benny K. Harman, dan Ketua Umum Srikandi Demokrat Annisa Pohan. Kehadiran tokoh-tokoh kunci ini menunjukkan soliditas internal partai di tengah berbagai tantangan politik.
Bagi Indonesia, pernyataan AHY ini memiliki resonansi yang lebih luas. Di tengah maraknya politik identitas dan polarisasi, pesan tentang kekuasaan sebagai amanah rakyat menjadi pengingat akan pentingnya menjaga integritas proses demokrasi. Demokrat, sebagai partai yang pernah merasakan puncak kekuasaan eksekutif, kini berupaya memposisikan diri sebagai penjaga nilai-nilai demokrasi. Pertanyaannya, apakah pesan ini akan diikuti dengan tindakan konkret dalam koalisi dan sikap politik ke depan, atau hanya menjadi narasi seremonial belaka? Publik akan terus mengawasi.



