Chairul Tanjung Buka Kisah Masa Kuliah: Uang Saku Rp45 Ribu Setahun, Berdagang Buku hingga Fotokopi
Baca dalam 60 detik
- Chairul Tanjung mengungkap perjuangan masa kuliahnya di hadapan generasi muda Lampung, termasuk uang saku Rp45 ribu setahun yang berasal dari gadai kain.
- Pengalaman bisnis pertamanya dimulai dari menjual buku praktikum dengan margin tipis, lalu merambah kaos, tas, hingga mesin fotokopi di kampus.
- Kisah ini menegaskan bahwa kesuksesan dibangun dari kerja keras dan keberanian mengambil peluang, relevan bagi anak muda Indonesia yang ingin berwirausaha.

Di tengah gemerlap kesuksesan sebagai konglomerat, Chairul Tanjung memilih berbagi sisi lain hidupnya: masa-masa sulit saat menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Dalam sesi Inspirational Talks di Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026), pria yang akrab disapa CT ini mengisahkan bagaimana keterbatasan ekonomi justru menjadi bahan bakar untuk merintis usaha dari nol.
Bagi banyak orang, kisah CT mungkin terdengar seperti dongeng sukses pada umumnya. Namun, di hadapan ratusan peserta yang memadati Novotel Bandar Lampung, ia menekankan bahwa jalan menuju puncak tidak pernah mulus. "Sukses bukan sesuatu yang mudah, semua harus diperjuangkan. Tidak seperti membalikkan telapak tangan, diperjuangkan dengan susah payah," ujarnya, menggarisbawahi bahwa kerja keras adalah harga mati.
CT lantas membuka lembaran lama kehidupannya. Saat awal kuliah, ia hanya menerima uang saku Rp45 ribu untuk satu tahun penuh. Nominal yang nyaris tak masuk akal untuk biaya hidup di Jakarta, bahkan di era 1980-an. Lebih pilu lagi, ia kemudian mengetahui bahwa uang tersebut diperoleh orang tuanya dengan menggadaikan selembar kain. Momen itu menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya. "Akhirnya saya tahu, akhirnya saya ubah pola pikir saya," kenangnya, seraya menegaskan tekadnya untuk tidak lagi membebani orang tua.
Dari keterbatasan itulah jiwa bisnis CT mulai terasah. Alih-alih larut dalam kesulitan, ia mencari celah untuk menghasilkan uang. Ide pertamanya sederhana namun cerdik: mengambil selisih harga dari pembuatan buku praktikum. Ia mendekati teman yang memiliki usaha percetakan kecil dan mengajak kerja sama. Saat itu, biaya fotokopi per buku dipatok Rp500, namun temannya bersedia mengambil untung tipis Rp150. CT kemudian menjual buku tersebut di kampus seharga Rp300, dan semua pesanan jatuh ke tangannya. "Karena teman saya tidak ambil keuntungan besar, Rp150 saja, saya balik ke kampus, saya jual Rp300, dan semua pesan sama saya," ungkapnya.
Kesuksesan kecil itu memupuk kepercayaan dirinya. CT tidak berhenti pada buku; ia mulai menjual kaos, tas, stiker, dan berbagai kebutuhan mahasiswa lainnya. Lambat laun, ia menjadi satu-satunya pengusaha di dalam kampus. Namun, ambisinya tidak berhenti di situ. Melihat lokasi fotokopi yang jauh dari kampus, ia pun membawa mesin fotokopi masuk ke lingkungan kampus dengan sistem bagi hasil. "Saya cari tukang mesin fotokopi, bagi hasil, tiap pulang saya cek, terus berkembang hingga sampai hari ini," tuturnya, menggambarkan bagaimana satu peluang membuka peluang lainnya.
Bagi generasi muda Indonesia, kisah CT menawarkan pelajaran berharga tentang resiliensi dan inovasi. Di tengah maraknya budaya instan, perjalanan CT mengingatkan bahwa kesuksesan tidak datang dalam semalam. Ia juga menyiratkan bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang, melainkan justru dapat menjadi pemicu kreativitas. Dengan modal nekat dan kemauan belajar, siapa pun bisa memulai dari hal-hal kecil di sekitarnya.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah anak muda Indonesia mampu meniru jejak CT, melainkan seberapa cepat mereka berani mengambil langkah pertama. Apakah kisah ini akan menginspirasi lahirnya wirausahawan-wirausahawan baru dari berbagai daerah, yang memanfaatkan potensi lokal sebagaimana CT memanfaatkan kebutuhan kampusnya? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi semangat yang ditanamkan CT di Lampung hari ini adalah benih yang kelak mungkin tumbuh menjadi hutan industri.



