Kakek Relakan Pelampung Terakhir demi Cucu: Kisah Heroik di Tengah Tragedi KM Nurul Salsa
Baca dalam 60 detik
- Umar (80) menyerahkan satu-satunya pelampung kepada cucunya, Naurah (13), sesaat sebelum KM Nurul Salsa tenggelam di perairan Selayar.
- Korban selamat Munawir menceritakan bagaimana Naurah terapung sambil memanggil kakeknya yang ikut tenggelam tanpa pelampung.
- Basarnas memperpanjang operasi pencarian setelah 59 dari 78 penumpang ditemukan selamat, 3 meninggal, dan 16 masih hilang.

Seorang kakek berusia 80 tahun, Umar, memilih melepas pelampung terakhir yang ia kenakan dan memberikannya kepada cucunya, Naurah (13), saat kapal KM Nurul Salsa mulai oleng dan tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Keputusan itu menjadi momen heroik yang memilukan, terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial.
Dalam rekaman yang beredar, Umar dan Naurah tampak duduk berdampingan di atas kapal. Naurah mengenakan pelampung oranye, sementara Umar hanya berjaket cokelat tanpa alat pengapung. Senyum sang kakek seolah menyembunyikan kepanikan yang melanda para penumpang saat itu. Belakangan diketahui, pelampung yang dikenakan Naurah adalah satu-satunya yang tersisa—diberikan Umar demi menyelamatkan cucunya.
Kesaksian Munawir (51), seorang kerabat yang selamat, mengungkap detail peristiwa tersebut. Menurut Munawir, KM Nurul Salsa berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar, pada Rabu (15/6) siang. Mesin kapal mati sekitar pukul 10.00 Wita, dan ombak besar menghantam hingga kapal terbalik dan tenggelam malam harinya. “Saat kapal tenggelam, kakek Naurah ikut tenggelam. Naurah menangis sambil memanggil kakeknya,” ujar Munawir.
Munawir yang mendengar tangisan Naurah berenang mendekat dan mengangkatnya ke atas gabus yang digunakan para korban untuk mengapung. Namun, ombak besar kembali menerjang, membuat gabus terbalik dan korban terpencar dalam kegelapan. “Saya tidak tahu ke mana lagi Naurah dan penumpang lainnya,” katanya. Hingga berita ini ditulis, nasib Naurah belum diketahui pasti.
Video yang diunggah akun X mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, memperlihatkan “pelukan terakhir” Umar dan Naurah. Foto tersebut menuai simpati luas dari warganet. Basarnas Makassar yang dikonfirmasi belum memberikan tanggapan resmi terkait video tersebut.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana TNI Yudhi Bramantyo, menyatakan perpanjangan operasi pencarian selama tiga hari ke depan. “Kami sepakat menambah waktu karena masih ada 16 korban yang belum ditemukan,” katanya, Selasa (21/7). Tim SAR gabungan terus menyisir perairan sekitar Pulau Polassi, lokasi tenggelamnya kapal.
Tragedi ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan pelayaran di wilayah kepulauan Indonesia. Kapal yang melampaui kapasitas muatan dan minim perlengkapan darurat menjadi persoalan kronis. Pertanyaan yang tersisa: akankah insiden ini mendorong perbaikan regulasi angkutan laut, atau hanya akan menjadi cerita heroik lain yang berlalu tanpa perubahan?



