Lena Headey Kritik Budaya Lindungi Pria Predator di Hollywood: 'Kekuasaan Timpang'
Baca dalam 60 detik
- Aktris Game of Thrones, Lena Headey, mengecam perlindungan berlebihan terhadap pria predator di industri film yang didorong oleh ketimpangan kekuasaan.
- Headey menyoroti bahwa aktris rentan sering terpaksa menerima perlakuan tidak pantas demi bertahan hidup, sebuah praktik yang perlahan berubah berkat gerakan #MeToo.
- Meski koordinator intimasi kini lebih umum, Headey mengingatkan bahwa kenyamanan di lokasi syuting belum sepenuhnya terjamin, terutama bagi aktor muda.

Lena Headey, aktris yang dikenal lewat perannya di Game of Thrones, melontarkan kritik tajam terhadap budaya Hollywood yang dinilainya masih memberikan perlindungan istimewa kepada pria-pria predator. Menurutnya, akar masalahnya bukan sekadar oknum, melainkan sistem yang membiarkan ketimpangan kekuasaan terus berlangsung.
Dalam wawancara dengan The Daily Telegraph, Headey mengungkapkan kekesalannya terhadap mekanisme industri yang kerap memihak mereka yang berkuasa. “Perlindungan aneh yang kita berikan kepada pria predator di bisnis ini, karena kekuasaan tak proporsional yang mereka miliki, berhadapan dengan kebutuhan aktris rentan untuk bekerja demi makan—itu membuat saya sangat marah,” ujarnya. Ia menambahkan, satu orang yang dibiarkan lolos begitu saja bisa meracuni seluruh pengalaman kerja.
Headey sebelumnya pernah menuding Harvey Weinstein, produser yang kini terjerat kasus pelecehan seksual, telah melontarkan komentar bernada seksual dan mencoba mengajaknya ke kamar hotel. Ia juga mempertanyakan apakah penolakannya terhadap rayuan Weinstein berdampak pada kariernya. Namun, kritiknya kini meluas ke seluruh ekosistem Hollywood yang dianggapnya masih timpang.
Aktris berusia 52 tahun itu memuji gerakan #MeToo yang mulai mengubah lanskap industri. Menurutnya, gerakan itu membuka mata banyak pihak bahwa pelecehan terjadi di mana-mana. “Saya pikir sebagian besar wanita muda yang saya ajak bicara sekarang sangat cerdas. Sikap mereka sekarang, ‘Saya tidak akan melakukan itu’,” katanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kehadiran koordinator intimasi tidak otomatis membuat aktor merasa nyaman saat syuting adegan sensitif.
Headey mengenang masa-masa awal kariernya ketika ia kerap menerima situasi tidak nyaman begitu saja. “Ketika saya memulai, ada semacam ritus peralihan yang harus dilalui semua aktris muda, biasanya melibatkan ciuman, jatuh cinta, berhubungan seks, dan memperlihatkan payudara. Mereka menyebutnya peran ingenue agar terdengar lebih halus,” ungkapnya. Ia mengaku tidak pernah mempertanyakan keamanan dirinya saat itu, hanya pulang dan menangis. “Sekarang saya melihat ke belakang dan berpikir, ‘Hmm, itu berat’.”
Bagi industri hiburan Indonesia, kritik Headey relevan mengingat masih adanya praktik serupa di balik layar. Meski regulasi dan kesadaran publik mulai meningkat, kasus pelecehan di industri kreatif Tanah Air masih kerap muncul. Pengakuan Headey menjadi pengingat bahwa perubahan sistemik, bukan sekadar seruan moral, adalah kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi semua talenta.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana industri perfilman global—termasuk Indonesia—benar-benar mau mengubah struktur kekuasaan yang timpang? Ataukah perubahan hanya akan berhenti di permukaan selama yang berkuasa masih bisa berlindung di balik pengaruh dan koneksi?



