Ayah Aktris Daveigh Chase Kirim Ucapan Ultah Ke-36 Lewat Kenangan Pedih: Kisah di Balik Kematiannya
Baca dalam 60 detik
- Ayah Daveigh Chase, John Schwallier, menyampaikan rasa kehilangan pada hari ulang tahun putrinya yang ke-36, sebulan setelah kematiannya karena AIDS dan penyalahgunaan obat.
- Kontroversi muncul terkait penggalangan dana GoFundMe yang didirikan oleh kekasih Chase, yang dibantah pihak keluarga sebagai tidak sah.
- Kematian aktris Lilo & Stitch itu menyoroti masalah kesehatan mental, kecanduan, dan kerentanan artis cilik di industri hiburan global, termasuk di Indonesia.

John Schwallier, ayah dari mendiang aktris Daveigh Chase, merayakan hari ulang tahun putrinya yang ke-36 dengan hati yang hancur—hanya sebulan setelah aktris tersebut meninggal dunia karena acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dengan komplikasi penyalahgunaan zat kronis.
Dalam pernyataannya kepada Daily Mail, Schwallier mengaku setiap hari memikirkan Chase yang meninggal pada 16 Juni lalu. “Ia pergi terlalu cepat. Saya hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan mengatakan bahwa ia selalu ada di pikiran saya,” ujarnya. Sebelumnya, Schwallier sempat menduga penyebab kematian adalah meningitis bakteri dan infeksi darah, namun laporan medis Los Angeles memastikan AIDS sebagai penyebab utama.
Chase dikenal lewat perannya sebagai Samara dalam film horor The Ring dan pengisi suara Lilo di Lilo & Stitch. Kariernya meroket di usia belia, namun kehidupan pribadinya kelam: ia mengalami masalah narkoba sejak usia 13 tahun, putus hubungan dengan orang tua pada usia 19 tahun, dan sempat tinggal di jalanan Los Angeles bersama kekasihnya, Roy Hernandez. Kondisi itu membuatnya rentan terhadap infeksi dan penyakit serius.
Kematian Chase memicu perseteruan keluarga dengan Hernandez. Mantan manajer dan sahabat lama Chase, John Ryan, mendesak publik untuk tidak menyumbang ke GoFundMe yang dibuat Hernandez. Ryan menyebut penggalangan dana itu “menjijikkan” dan tidak untuk biaya medis atau pemakaman—semua sudah ditanggung keluarga. Ia bahkan menuding Hernandez membawa Chase ke rumah sakit dalam kondisi memprihatinkan tanpa memberi tahu keluarga hingga sang aktris meninggal. Hernandez membantah tudingan itu dengan menyatakan penggalangan dana 100 persen sah.
Kasus ini menggambarkan betapa kompleksnya akhir kehidupan seorang artis cilik yang sempat bersinar. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi: bintang cilik yang tumbuh di bawah tekanan industri hiburan rentan mengalami gangguan mental, kecanduan, dan eksploitasi. Ketiadaan sistem perlindungan yang ketat bagi artis di bawah umur, baik di Hollywood maupun di Indonesia, menjadi celah yang berbahaya.
Chase terakhir tampil di layar lebar pada 2016 lewat film American Romance. Karya-karyanya, termasuk Donnie Darko, Spirited Away, dan Big Love, tetap dikenang para penggemar. Namun, warisan yang ditinggalkan bukan hanya aktingnya, melainkan juga peringatan akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan kecanduan di kalangan selebritas muda.
Ke depan, akankah industri hiburan global—dan Indonesia—belajar dari tragedi ini untuk memberikan perlindungan lebih baik bagi para artis cilik? Atau kisah Daveigh Chase hanya akan menjadi catatan kaki lain dalam daftar panjang bintang yang padam sebelum waktunya?



