Ledakan Gas Metana di Terowongan Sikkim Tewaskan 12 Pekerja, 13 Masih Terjebak
Baca dalam 60 detik
- Ledakan metana di terowongan pembangkit listrik tenaga air di Sikkim, India timur laut, menewaskan 12 pekerja dan 13 lainnya masih tertimbun.
- Gas metana yang terperangkap di batuan meledak saat terowongan dibor, memicu keruntuhan dan pelepasan gas beracun.
- Tim penyelamat fokus pada zona 200 meter di dalam terowongan, sementara pemerintah setempat membentuk tim investigasi khusus.

Ledakan gas metana di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air di negara bagian Sikkim, India timur laut, menewaskan sedikitnya 12 pekerja dan menyebabkan 13 lainnya masih terjebak di reruntuhan sejak Senin lalu. Peristiwa ini menjadi pengingat getir akan risiko keselamatan dalam proyek infrastruktur bawah tanah di kawasan Himalaya yang rawan bencana.
Menurut pernyataan National Hydroelectric Power Corporation (NHPC), perusahaan milik negara yang mengelola proyek, ledakan terjadi akibat pelepasan gas metana yang terperangkap di dalam batuan saat proses penggalian. Gas tersebut kemudian terbakar dan meledak, menghasilkan asap tebal serta gas beracun yang memenuhi terowongan. Pemerintah Sikkim dalam pernyataan terpisah mengonfirmasi penyebab kecelakaan adalah pembakaran gas metana.
Terowongan sepanjang 1,5 kilometer itu dirancang untuk mengalirkan air dari Sungai Teesta ke turbin pembangkit listrik tenaga air. Saat kejadian, 27 pekerja tengah bekerja di berbagai titik di dalam terowongan. Dua orang berhasil melarikan diri segera setelah ledakan, sementara 25 lainnya terjebak. Hingga Rabu pagi, tim penyelamat dari National Disaster Response Force (NDRF) telah mengevakuasi 12 jenazah, dan pencarian terhadap 13 pekerja lainnya terus berlangsung.
Kepala Polisi Sikkim, Sonam D Bhutia, mengonfirmasi bahwa tujuh korban telah teridentifikasi, terdiri dari satu pekerja lokal dan sisanya pekerja migran dari Benggala Barat, Uttarakhand, dan Assam. Penyebab pasti kematian akan ditentukan melalui otopsi. Sementara itu, petugas NDRF Mohsen Shahedi menyatakan bahwa operasi pencarian difokuskan pada zona sepanjang 200 meter di dalam terowongan yang diduga menjadi lokasi para pekerja yang hilang.
Kecelakaan ini menyoroti bahaya laten dalam proyek terowongan di kawasan pegunungan, terutama yang melibatkan pengeboran batuan yang mengandung gas metana. Di Indonesia, proyek serupa seperti terowongan kereta cepat Jakarta-Bandung atau pembangunan bendungan di daerah rawan longsor juga menghadapi risiko serupa. Pengalaman India ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi otoritas dan kontraktor di Tanah Air untuk memperketat prosedur keselamatan, termasuk pemantauan gas bawah tanah dan penyediaan alat pelindung diri yang memadai.
Kepala Menteri Sikkim, Prem Singh Tamang, telah membentuk tim investigasi khusus untuk mengusut tuntas penyebab kecelakaan. "Kami telah melibatkan tim ahli untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana. Kami akan mengambil tindakan berdasarkan temuan tersebut," ujarnya kepada wartawan. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah prosedur keselamatan di proyek-proyek infrastruktur bawah tanah di kawasan rawan sudah cukup ketat, ataukah tragedi seperti ini akan terus berulang?



