Efisiensi Beban Dorong Laba ADHI Naik 12,5% Meski Pendapatan Merosot
Baca dalam 60 detik
- PT Adhi Karya (ADHI) membukukan laba bersih Rp8,49 miliar pada semester I-2026, tumbuh 12,57% secara tahunan, di tengah pendapatan yang terkontraksi 18,35%.
- Kenaikan laba ditopang oleh efisiensi beban pokok yang turun lebih dalam (25,5%) dibanding penurunan pendapatan, serta lonjakan laba usaha sebesar 67,69%.
- Namun, tekanan dari beban keuangan yang meningkat dan rugi entitas asosiasi yang melonjak 611% membuat laba sebelum pajak justru menyusut 17,11%.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) mencatatkan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp8,49 miliar pada semester pertama 2026, naik 12,57% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp7,54 miliar. Pencapaian ini kontras dengan pendapatan usaha yang justru merosot 18,35% menjadi Rp3,11 triliun dari sebelumnya Rp3,81 triliun.
Kenaikan laba di tengah penurunan pendapatan menjadi sinyal bahwa perusahaan BUMN karya ini berhasil menjalankan strategi efisiensi secara agresif. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan hingga 25,5% menjadi Rp2,41 triliun, lebih besar dari penurunan pendapatan. Alhasil, laba bruto melonjak 22,28% menjadi Rp700,42 miliar.
Dari sisi operasional, total beban usaha turun tipis menjadi Rp384,25 miliar. Beban penjualan memang naik 12,15% menjadi Rp6,51 miliar, namun beban umum dan administrasi sedikit terkoreksi 0,14% menjadi Rp377,74 miliar. Efisiensi ini mendorong laba usaha melesat 67,69% menjadi Rp316,17 miliar. Kontribusi dari bagian laba ventura bersama juga meningkat tipis 1,17% menjadi Rp188,41 miliar.
Namun, kinerja operasional yang gemilang itu tergerus oleh membengkaknya pos-pos non-operasional. Bagian rugi entitas asosiasi melonjak drastis 611,59% menjadi Rp23,92 miliar dari sebelumnya hanya Rp3,36 miliar. Beban keuangan juga naik 2,75% menjadi Rp349,17 miliar. Selain itu, perseroan mencatat beban lain-lain bersih Rp35,83 miliar, berbalik dari posisi tahun lalu yang masih mencatat pendapatan lain-lain bersih Rp75,24 miliar.
Akibatnya, laba sebelum pajak justru turun 17,11% menjadi Rp20,56 miliar. Beban pajak penghasilan yang lebih rendah (turun 41,59%) membantu meredam penurunan, sehingga laba tahun berjalan tercatat Rp17,51 miliar, turun 10,52% dari Rp19,59 miliar. Total aset ADHI juga menyusut menjadi Rp27,5 triliun dari Rp28,7 triliun pada akhir 2025.
Bagi investor di pasar modal Indonesia, kinerja ADHI ini menunjukkan bahwa efisiensi biaya dapat menjadi bantalan di tengah tekanan pendapatan. Namun, risiko dari beban keuangan dan kerugian entitas asosiasi perlu dicermati, terutama jika tren kenaikan suku bunga berlanjut. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ADHI mampu mempertahankan tren efisiensi ini hingga akhir tahun, atau justru akan menghadapi tantangan baru dari proyek-proyek infrastruktur yang mungkin tertunda.



