Ledakan Ganda Bintang Raksasa: Ubur-Ubur Kosmik dan Pasangannya Terungkap
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya, para astronom menemukan bukti dua bintang masif dalam satu sistem biner yang sama-sama meledak sebagai supernova, meninggalkan nebula kembar.
- Penemuan ini mengungkap Nebula Ubur-Ubur (IC 443) dan nebula G189.6+3.3 sebagai sisa ledakan berurutan dengan selang waktu 20.000–110.000 tahun.
- Studi ini membuka jalan untuk memahami evolusi bintang masif dalam sistem biner, yang selama ini hanya diandalkan dari model teoretis.

Para ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil mengidentifikasi dua bintang raksasa dalam satu sistem biner yang sama-sama mengakhiri hidupnya dengan ledakan supernova, meninggalkan dua nebula yang saling terkait. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 21 Juli ini tidak hanya mengungkap asal-usul Nebula Ubur-Ubur yang terkenal, tetapi juga memberikan petunjuk langka tentang bagaimana bintang masif berevolusi dalam ikatan gravitasi.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Miltiadis Michailidis dari Stanford University menggunakan data lebih dari 16 tahun dari Teleskop Luar Angkasa Sinar Gamma Fermi milik NASA. Mereka menemukan bahwa Nebula Ubur-Ubur, yang secara formal dikenal sebagai IC 443, bukanlah sisa supernova tunggal. Di dekatnya terdapat nebula lain yang diberi kode G189.6+3.3, yang ternyata merupakan sisa ledakan dari pasangan bintang dalam sistem biner yang sama.
Kedua bintang ini diperkirakan memiliki massa 15 hingga 25 kali lipat massa Matahari untuk yang pertama, dan setidaknya 20 kali lipat untuk pasangannya. Selama masa hidupnya, keduanya bersinar puluhan ribu kali lebih terang dari Matahari. Setelah meledak, keduanya kemungkinan menyisakan bintang neutron—sisa-sisa bintang yang sangat padat. Lokasi kedua nebula ini berada di konstelasi Gemini, sekitar 6.000 tahun cahaya dari Bumi.
Yang menarik, kedua bintang ini awalnya mengorbit sangat dekat—hanya beberapa kali jarak Bumi-Matahari. Kedekatan ini memungkinkan terjadinya transfer massa, di mana material dari satu bintang mengalir ke bintang lainnya. Ledakan pertama terjadi pada bintang yang menghasilkan nebula G189.6+3.3, dan ledakan tersebut menghempaskan pasangannya. Setelah puluhan ribu tahun, pasangan yang terlontar itu pun meledak, menciptakan Nebula Ubur-Ubur.
Menurut Michailidis, belum dapat dipastikan apakah ledakan pertama memicu ledakan kedua secara langsung. "Saat supernova pertama terjadi, bintang kedua mungkin sudah mendekati akhir hidupnya," ujarnya. Rentang waktu antara kedua ledakan diperkirakan antara 20.000 hingga 110.000 tahun—sangat singkat dalam skala kosmik.
Penemuan ini memiliki implikasi besar bagi astrofisika bintang. Sebagian besar bintang masif di alam semesta lahir dalam sistem biner, namun hingga kini belum pernah teramati sepasang bintang yang keduanya meledak sebagai supernova dan meninggalkan sisa yang dapat diamati. "Sistem ini memberi kesempatan langka untuk merekonstruksi sejarah evolusi lengkap sebuah biner masif—dari kelahiran dan interaksi kedua bintang, melalui kedua ledakan supernova, hingga sisa-sisa yang ditinggalkan," jelas Michailidis.
Bagi Indonesia, meskipun tidak terlibat langsung dalam penelitian ini, temuan tersebut memperkaya khazanah sains astronomi yang dapat diakses oleh komunitas riset dan pendidikan di tanah air. Observatorium Bosscha di Lembang, misalnya, dapat memanfaatkan data ini untuk studi lanjutan tentang evolusi bintang. Selain itu, publikasi di jurnal bereputasi seperti Nature Communications menunjukkan pentingnya kolaborasi internasional dan penggunaan data observasi jangka panjang.
Ke depan, para ilmuwan berencana untuk mencari lebih banyak sistem biner serupa menggunakan teleskop generasi baru. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah ledakan supernova dalam sistem biner selalu terjadi berurutan, atau adakah mekanisme lain yang memicu ledakan simultan? Temuan ini membuka pintu untuk menjawab misteri lama tentang bagaimana bintang masif benar-benar mengakhiri hidupnya.



