Sungai Juana Mengering, Warga Pati Panen Ikan Sapu-Sapu: Antara Berkah dan Ancaman Ekologis
Baca dalam 60 detik
- Kekeringan ekstrem di Bendung Karet Sungai Juana, Pati, memunculkan ribuan ikan sapu-sapu yang mati dan terdampar, menjadi lahan cuan dadakan bagi warga.
- Fenomena ini menyoroti tekanan serius terhadap sumber daya air akibat alih fungsi untuk irigasi pertanian di tengah musim kemarau berkepanjangan.
- Para ahli mengingatkan bahwa praktik pemanenan ikan invasif ini hanya solusi jangka pendek yang tidak menyelesaikan akar masalah krisis air.

Kemarau panjang yang melanda Jawa Tengah telah mengubah dasar Sungai Juana di Pati menjadi hamparan lumpur retak, sekaligus memunculkan ribuan ikan sapu-sapu yang terdampar dan mati. Pemandangan ini bukan hanya potret krisis ekologi, tetapi juga membuka peluang ekonomi dadakan bagi warga setempat yang berbondong-bondong mengumpulkan ikan tersebut untuk dijual ke pabrik pakan ternak.
Bendung Karet Sungai Juana, yang selama ini menjadi penopang irigasi pertanian di sekitarnya, mulai kehilangan debit airnya sejak sebulan terakhir. Namun, kondisi kering total baru terjadi sekitar sepekan terakhir, menyusul tingginya kebutuhan air untuk lahan pertanian di puncak musim kemarau. Fenomena ini memaksa warga beradaptasi cepat: dari yang biasanya mengandalkan aliran sungai, kini mereka mengais rezeki dari ikan-ikan yang terperangkap di kubangan lumpur.
Ikan sapu-sapu, spesies yang kerap dianggap sebagai hama pengganggu ekosistem perairan, justru menjadi primadona dadakan. Ribuan ekor yang terdampar dipunguti warga dengan berbagai peralatan seadanya, mulai dari ember hingga jaring. Sebagian ikan yang masih hidup ditampung dalam wadah berisi air, sementara yang mati dibiarkan mengering di bawah terik matahari. Aroma anyir mulai tercium di sekitar lokasi, namun belum sampai mengganggu permukiman penduduk.
Menurut catatan Reuters, aktivitas pemanenan ikan sapu-sapu ini bukan sekadar usaha sambilan. Sejumlah warga menyebutkan bahwa ikan-ikan tersebut dijual ke pabrik pengolahan, yang kemungkinan besar dijadikan bahan baku pakan ternak atau produk turunan lainnya. Nilai ekonominya memang tidak sebesar ikan konsumsi, tetapi di tengah kesulitan ekonomi akibat gagal panen, hasil penjualan ini menjadi pemasukan tambahan yang berarti.
Fenomena ini memantik pertanyaan yang lebih dalam tentang pengelolaan air di Indonesia. Sungai Juana adalah salah satu dari banyak sungai di Pulau Jawa yang setiap tahun mengalami penurunan debit air drastis saat kemarau. Para pegiat lingkungan menilai bahwa praktik pengambilan air tanah dan permukaan secara berlebihan untuk pertanian, ditambah dengan perubahan iklim yang membuat musim kemarau semakin panjang, menjadi pemicu utama. Mereka menggarisbawahi bahwa ikan sapu-sapu yang mati sebenarnya adalah indikator kesehatan sungai yang buruk, bukan sekadar berkah ekonomi.
Meski demikian, bagi warga Pati, momen ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Seperti diungkapkan salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya kepada Reuters, "Kami hanya memanfaatkan apa yang ada. Ikan ini biasanya tidak dihargai, sekarang bisa dijual." Pernyataan ini mencerminkan sikap pragmatis masyarakat yang terbiasa bertahan di tengah keterbatasan. Namun, para ahli mengingatkan bahwa ketergantungan pada sumber daya yang tidak berkelanjutan seperti ini hanya akan menambah beban ekosistem yang sudah rapuh.
Kejadian serupa sebenarnya pernah terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia, seperti di Bengawan Solo dan Sungai Citarum, ketika muka air surut ekstrem. Pola yang sama selalu berulang: warga berbondong-bondong mengambil ikan, tetapi tidak ada upaya serius untuk memulihkan kondisi sungai. Pemerintah daerah dan pusat pun kerap terlambat merespons, baru bertindak setelah bencana kekeringan meluas.
Ke depan, pertanyaan yang relevan bukan hanya berapa lama warga bisa menikmati "durian runtuh" dari ikan sapu-sapu ini, melainkan bagaimana Indonesia memperbaiki tata kelola airnya. Apakah krisis ini akan menjadi momentum untuk mendorong pembangunan waduk baru, penerapan teknologi irigasi hemat air, atau penegakan hukum terhadap pengambilan air liar? Tanpa langkah konkret, potret Sungai Juana yang kering kerontang ini akan semakin sering muncul, dan bukan hanya di Pati, tetapi di seluruh negeri.



