Harga Rata-Rata Apartemen Baru di Tokyo Tembus 100 Juta Yen, Rekor Tertinggi
Baca dalam 60 detik
- Harga rata-rata kondominium baru di kawasan Tokyo Raya mencapai 101,35 juta yen pada semester I-2026, naik 13,1% secara tahunan.
- Kenaikan dipicu oleh melonjaknya biaya konstruksi dan permintaan dari rumah tangga dengan dua penghasilan yang tetap tinggi.
- Pasokan unit baru justru menyusut untuk kelima kalinya dalam lima semester, menandakan ketidakseimbangan pasar yang semakin dalam.

Harga rata-rata sebuah apartemen baru di Tokyo dan tiga prefektur di sekitarnya untuk pertama kalinya menembus angka 100 juta yen atau setara dengan 615.000 dolar AS pada paruh pertama tahun 2026. Angka tersebut mencapai rekor 101,35 juta yen, menurut laporan Real Estate Economic Institute yang dirilis Selasa (21/7).
Kenaikan ini mencerminkan tekanan biaya konstruksi yang terus meningkat serta permintaan yang tetap kuat dari kalangan pembeli, terutama rumah tangga dengan dua sumber penghasilan. Secara tahunan, harga rata-rata di kawasan metropolitan Tokyo naik 13,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencatat rekor tertinggi untuk tahun kedua berturut-turut.
Di pusat kota Tokyo, harga rata-rata melonjak 9,1 persen menjadi 142,49 juta yen, level tertinggi sejak data komparatif tersedia pada 1973. Sementara itu, kenaikan paling dramatis terjadi di Prefektur Chiba, yang mencatat lonjakan 56,8 persen menjadi 89,97 juta yen. Prefektur Kanagawa juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 20,0 persen menjadi 83,46 juta yen, dan wilayah Tokyo bagian barat di luar 23 distrik khusus mencatat kenaikan 10,5 persen menjadi 75,50 juta yen.
Namun, tidak semua daerah menikmati tren positif. Prefektur Saitama justru mengalami penurunan harga sebesar 1,3 persen menjadi 64,69 juta yen, setelah sebelumnya melonjak akibat banyaknya proyek apartemen kelas atas yang diluncurkan pada semester pertama tahun lalu.
Di sisi pasokan, jumlah apartemen baru yang ditawarkan di Tokyo dan tiga prefektur sekitarnya justru menyusut tipis 0,8 persen menjadi 7.989 unit. Ini merupakan penurunan kelima berturut-turut pada semester pertama, mengindikasikan bahwa pengembang semakin berhati-hati dalam meluncurkan proyek baru di tengah biaya konstruksi yang tinggi.
Seorang pejabat dari Real Estate Economic Institute dalam konferensi pers memperkirakan bahwa harga rata-rata untuk 23 distrik khusus Tokyo bisa mencapai 200 juta yen, namun tidak dalam tiga hingga empat tahun ke depan dengan laju saat ini. "Jika inflasi berlanjut dan upah pembeli apartemen, khususnya rumah tangga dengan dua penghasilan, terus meningkat secara stabil, harga apartemen bisa terus naik karena pembeli tetap bersedia membayar harga yang lebih tinggi," ujarnya.
Pada Juni 2026 saja, harga rata-rata di kawasan metropolitan Tokyo naik 10,6 persen secara tahunan menjadi 101,37 juta yen. Prefektur Kanagawa mencatat lonjakan 50,5 persen menjadi 103,79 juta yen, sementara pusat Tokyo justru turun 1,5 persen menjadi 130,13 juta yen. Jumlah unit yang dipasarkan pada Juni juga turun 4,7 persen menjadi 1.564 unit, penurunan pertama sejak Maret.
Fenomena ini memberikan gambaran menarik bagi pasar properti Indonesia. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, harga properti juga terus merangkak naik didorong oleh kenaikan biaya material dan upah pekerja. Namun, berbeda dengan Jepang yang mengalami deflasi selama puluhan tahun, Indonesia justru menghadapi tekanan inflasi yang lebih tinggi. Tren kenaikan harga properti di Tokyo bisa menjadi sinyal bahwa pasar properti di negara maju pun tidak kebal terhadap gejolak biaya konstruksi. Bagi investor Indonesia, pasar properti Tokyo tetap menarik sebagai aset safe haven, namun dengan risiko harga yang semakin mahal dan pasokan terbatas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah tren kenaikan harga ini akan berlanjut atau justru memicu gelembung properti. Dengan suku bunga yang masih rendah di Jepang dan permintaan yang kuat, pasar sepertinya masih akan panas. Namun, jika biaya konstruksi terus melonjak tanpa diimbangi daya beli, koreksi harga bisa saja terjadi. Pasar properti Tokyo akan menjadi barometer yang menarik untuk diamati.



