BRI Kuasai Penyaluran Pembiayaan Rumah Bersubsidi, Capai Rp22 Triliun hingga Juli 2026
Baca dalam 60 detik
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mencatat penyaluran pembiayaan perumahan bersubsidi sebesar Rp22 triliun hingga Juli 2026, menjadi yang tertinggi di antara bank lain.
- Pencapaian ini didorong oleh dua program utama: Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Kredit Program Perumahan (KPP), dengan target total Rp95 triliun.
- Menteri PKP Maruarar Sirait mengapresiasi kinerja BRI yang melampaui gabungan bank lain, dan optimistis target akhir tahun akan tercapai lebih dari 100%.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) kembali menegaskan dominasinya di sektor pembiayaan perumahan bersubsidi. Hingga Juli 2026, bank pelat merah ini telah menyalurkan Rp22 triliun untuk program rumah bersubsidi, menjadikannya penyalur terbesar di antara perbankan nasional. Angka tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam pertemuan dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait di kantor pusat BRI, Selasa (21/7/2026).
Pembiayaan perumahan bersubsidi terbagi dalam dua skema utama: Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Kredit Program Perumahan (KPP). BRI mencatatkan realisasi Rp10 triliun untuk FLPP dari target Rp10 triliun (100%), sementara untuk KPP baru mencapai Rp12 triliun dari target Rp85 triliun, atau sekitar 14%. Namun, secara keseluruhan, total penyaluran Rp22 triliun baru mencapai 23% dari target gabungan Rp95 triliun. Meski demikian, Hery optimistis BRI akan melampaui target akhir tahun.
โSampai Desember nanti, rasanya BRI akan mencapai target lebih dari 100%,โ ujar Hery di Sentra BRI. Keyakinan ini didasarkan pada tren percepatan penyaluran yang biasanya terjadi pada semester kedua. Pemerintah pun berencana menaikkan target penyaluran KPP menyusul capaian BRI yang hampir 89% dari target awal.
Menteri Maruarar Sirait memberikan apresiasi tinggi atas kinerja BRI. โBRI sendirian lebih besar dari semua bank digabung jadi satu,โ katanya. Pernyataan ini menegaskan posisi BRI sebagai pemimpin pasar pembiayaan perumahan bersubsidi. Dominasi ini tidak terlepas dari jaringan luas BRI hingga ke pelosok daerah, serta pengalaman panjang dalam menyalurkan kredit program pemerintah.
Bagi Indonesia, capaian ini memiliki implikasi strategis. Program rumah bersubsidi merupakan salah satu prioritas pemerintah untuk mengurangi backlog perumahan yang masih tinggi, diperkirakan mencapai 12,7 juta unit. Dengan BRI sebagai motor utama, target pembiayaan Rp95 triliun diharapkan dapat mempercepat penyediaan rumah layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, masih ada pekerjaan rumah: penyaluran KPP yang baru 14% perlu dikejar agar target akhir tahun tercapai.
Ke depan, tantangan utama BRI adalah menjaga momentum pertumbuhan di tengah suku bunga yang masih tinggi dan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Apakah BRI mampu mempertahankan dominasinya dan mencapai target lebih dari 100% hingga Desember 2026? Jawabannya akan menjadi indikator penting bagi keberhasilan program perumahan nasional.



