Investor Asing Borong Saham Grup Prajogo dan Bakrie di Tengah Tekanan IHSG
Baca dalam 60 detik
- Di tengah aksi jual besar-besaran di saham perbankan, investor asing justru mengakumulasi saham Grup Prajogo Pangestu dan Grup Bakrie dengan total beli bersih hampir Rp300 miliar.
- Saham PT Chandra Daya Investasi (CUAN), PT Petrindo Jaya Kreasi (PTRO), dan PT Bumi Resources (BUMI) menjadi primadona, mencerminkan peralihan minat ke sektor komoditas dan energi.
- Tekanan jual di saham blue chip seperti BBCA dan ASII masih mendominasi, membuat IHSG terperosok meski ada topangan dari saham-saham konglomerasi.

Dua grup konglomerasi besar Indonesia, Prajogo Pangestu dan Bakrie, menjadi sasaran akumulasi investor asing di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (23/7/2026), menandai pergeseran strategi dari saham perbankan ke sektor komoditas yang dinilai lebih prospektif dalam jangka pendek.
Berdasarkan data bursa, investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp1,22 triliun, namun di balik angka jual bersih tersebut terdapat aksi beli selektif pada emiten tertentu. Saham Grup Prajogo mendominasi daftar incaran: PT Chandra Daya Investasi Tbk (CUAN) mencatat net foreign buy tertinggi di kelompok ini Rp95,7 miliar, disusul PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (PTRO) Rp90,4 miliar, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp57,3 miliar. Sementara dari Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) diburu Rp55,3 miliar dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp26,7 miliar.
Fenomena ini menarik karena terjadi di saat IHSG justru melemah 0,30% ke level 6.315,31 akibat tekanan jual deras di saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif 19,85 poin, diikuti PT Astra International Tbk (ASII) 6,11 poin, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) 4,61 poin. Aksi jual di sektor perbankan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek suku bunga dan kualitas aset, sehingga dana asing dialihkan ke saham-saham berbasis sumber daya alam yang tengah diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global.
Selain dua grup konglomerasi tersebut, saham PT Amman Mineral International Tbk (AMMN), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga masuk dalam jajaran yang paling banyak dikoleksi asing. Akumulasi ini tercermin dari daftar top movers IHSG, di mana BUMI menjadi kontributor positif kedua terbesar dengan sumbangan 5,51 poin, sementara PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLPT) menjadi penyumbang terbesar dengan 7,77 poin.
Bagi investor domestik, pola ini memberikan sinyal bahwa meskipun tekanan jual di sektor perbankan masih berlangsung, peluang akumulasi di saham komoditas dan energi tetap terbuka. Analis menilai bahwa aksi beli asing pada saham-saham konglomerasi ini didorong oleh ekspektasi perbaikan kinerja emiten batu bara dan mineral di tengah permintaan yang masih kuat dari Tiongkok dan India. Namun, perlu diingat bahwa volatilitas komoditas tetap tinggi sehingga investasi pada saham tersebut memerlukan toleransi risiko yang lebih besar.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada sentimen global, terutama kebijakan suku bunga The Fed dan harga komoditas. Apakah akumulasi asing di saham konglomerasi ini merupakan awal dari rotasi sektor yang lebih luas, atau hanya sekadar strategi jangka pendek di tengah gejolak pasar? Investor patut mencermati data perdagangan selanjutnya untuk mengonfirmasi arah aliran dana asing.



