Ferris Bueller Hampir Diperankan Emilio Estevez: Kisah di Balik Casting Ikonik John Hughes
Baca dalam 60 detik
- Alan Ruck mengungkap John Hughes awalnya mengincar Anthony Michael Hall atau Emilio Estevez untuk peran Ferris Bueller sebelum akhirnya memilih Matthew Broderick.
- Broderick sempat ragu menerima peran karena khawatir terjebak dalam stereotip remaja dan enggan memecahkan dinding keempat.
- Kesuksesan film ini justru membuat Ruck kesulitan mendapat pekerjaan lain, sebelum akhirnya bangkit lewat peran di Succession.

Matthew Broderick nyaris tidak pernah menjadi Ferris Bueller. Dalam wawancara terbaru dengan The Guardian, Alan Ruck—yang memerankan sahabat Ferris, Cameron Frye—mengungkapkan bahwa sutradara John Hughes awalnya mengincar dua bintang The Breakfast Club, Anthony Michael Hall dan Emilio Estevez, untuk memerankan siswa SMA paling populer di Chicago itu. Keputusan akhir Hughes mengubah arah karier Broderick sekaligus membentuk ikon budaya pop yang bertahan hingga kini.
Menurut Ruck, Hall dan Estevez menolak tawaran tersebut karena ingin beralih ke proyek lain. “John Hughes awalnya memikirkan Anthony Michael Hall atau Emilio Estevez untuk Ferris, tetapi mereka ingin beralih ke hal yang berbeda, jadi dia dengan bijak memilih Matthew,” ujar Ruck. Kedua aktor itu sebelumnya bekerja sama dengan Hughes dalam The Breakfast Club (1985), sementara Hall juga membintangi Sixteen Candles dan Weird Science. Penolakan mereka membuka jalan bagi Broderick, yang saat itu sedang bermain dalam drama Biloxi Blues bersama Ruck.
Broderick sendiri mengaku ragu saat pertama kali ditawari peran tersebut. Ia khawatir akan terus-menerus dipandang sebagai aktor remaja setelah membintangi Ladyhawke dan WarGames. Kekhawatiran lainnya adalah teknik breaking the fourth wall—berbicara langsung ke kamera—yang menjadi ciri khas Ferris. “Saya sudah melakukannya di dua drama panggung dan tidak ingin itu menjadi satu-satunya hal yang bisa saya lakukan,” kenang Broderick. Namun, agennya bersikeras: “Kamu diminta untuk membuat film John Hughes. Kamu akan melakukannya.” Saat itu Broderick belum terlalu mengenal Hughes, tetapi ia sering mendengar julukan “Spielberg-nya film remaja” disematkan pada sang sutradara.
Proses casting Ruck juga tidak mulus. Hughes awalnya ragu memberikan peran Cameron kepada Ruck karena ia sudah berusia 28 tahun—terlalu tua menurut standar film SMA. Namun, manajer Broderick terus mendesak Hughes, mengatakan bahwa Broderick ingin bekerja dengan Ruck. “Manajer Matthew terus menanamkan ide di telinga John, ‘Matthew ingin bekerja dengan Alan.’ Itu sangat membantu saya mendapatkan peran,” kata Ruck. Keduanya sudah berteman sebelum syuting, sehingga chemistry di layar terasa alami.
Setelah Ferris Bueller’s Day Off, Broderick dan Ruck menjalani karier yang berbeda. Broderick terus mendapat peran utama, sementara Ruck justru kesulitan mendapat pekerjaan. “Semua orang terus membicarakan Ferris Bueller. Saya pikir itu adalah puncak karier saya,” ujarnya. Butuh waktu lama baginya untuk bisa kembali bekerja secara konsisten, hingga akhirnya ia mendapat peran di Spin City dan Succession. Kini, Ruck bisa lebih menghargai warisan film tersebut.
Bagi penggemar film klasik di Indonesia, kisah di balik layar ini mengingatkan bahwa keputusan casting sering kali bergantung pada keberuntungan dan negosiasi di belakang panggung. Andai Hall atau Estevez menerima tawaran, mungkin ikon Ferris Bueller tidak akan pernah lahir. Pertanyaannya, mampukah aktor lain menghidupkan karakter yang begitu ceria dan nakal seperti yang dilakukan Broderick? Jawabannya mungkin hanya diketahui oleh John Hughes.



