Rekonsiliasi The Kinks: Dave Davies Sebut 'Mukjizat', Isyaratkan Konser Bersama
Baca dalam 60 detik
- Dave Davies menyebut rekonsiliasi dengan kakaknya Ray sebagai 'mukjizat' setelah puluhan tahun berseteru.
- Kedua musisi legendaris itu kini menjalin hubungan erat meski tinggal di benua berbeda, membuka peluang manggung bersama.
- Ray Davies menegaskan The Kinks versi lama tak akan kembali, namun ikatan persaudaraan mereka tetap kuat.

Dave Davies, gitaris legendaris The Kinks, menyebut rekonsiliasinya dengan sang kakak, Ray Davies, sebagai sebuah 'mukjizat'. Pernyataan itu muncul setelah puluhan tahun perseteruan sengit yang sempat membuat hubungan mereka nyaris putus. Kini, di usia senja, keduanya kembali menjalin kedekatan dan bahkan memberi isyarat kemungkinan tampil bersama lagi.
Dave, 79 tahun, yang menetap di Amerika Serikat, mengaku hubungannya dengan Ray, 82 tahun, yang tinggal di London, telah berubah drastis. "Ini benar-benar mukjizat, bagaimana kami bisa menjadi sangat terikat," ujarnya kepada The Times, seperti dikutip dalam wawancara baru-baru ini. "Kami menikmati kebersamaan. Kami akur sekali." Pernyataan ini kontras dengan masa lalu di mana Dave pernah mengaku tidak tahan dengan Ray dan kerap keluar studio dengan marah.
Perseteruan The Kinks bukanlah rahasia. Sepanjang karier mereka, pertengkaran dan perbedaan pendapat sering kali menghiasi perjalanan band yang dibentuk pada 1960-an itu. Puncaknya terjadi saat ulang tahun Dave yang ke-50, ketika Ray merebut kue ulang tahunnya, melemparkannya ke lantai, dan menginjak-injaknya. Insiden itu menjadi simbol betapa runcingnya hubungan kedua saudara tersebut. Namun, waktu dan jarak ternyata mampu meredakan ketegangan. Ray mengakui bahwa internet menjadi jembatan yang mempertemukan mereka kembali. "Dia tinggal di New Jersey, saya di London utara, tapi internet menyatukan kami," kata Ray.
Meski hubungan pribadi membaik, Ray menegaskan bahwa The Kinks versi lama tak akan kembali. "Soal rekaman lagi, soal tampil lagi? Kami tidak akan pernah menjadi The Kinks seperti dulu, tapi kami tidak pernah benar-benar bubar," ujarnya. Pernyataan ini menepis harapan penggemar yang mungkin menginginkan reuni besar-besaran. Namun, Dave memberikan secercah optimisme. Saat ditanya apakah mereka bisa tampil bersama lagi, ia menjawab, "Saya tidak tahu, tapi jangan pernah bilang tidak."
Bagi penggemar musik rock di Indonesia, kisah The Kinks menjadi pengingat bahwa konflik dalam band legendaris sering kali lebih rumit dari yang terlihat. Perseteruan Davies bersaudara mengingatkan pada dinamika serupa di grup musik Tanah Air, seperti perpecahan God Bless atau Koes Plus yang sempat renggang. Namun, rekonsiliasi di usia senja menunjukkan bahwa ikatan darah dan musik bisa mengalahkan ego. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah The Kinks benar-benar manggung lagi, atau cukup dengan kerukunan di antara kedua saudara itu?
"Ada kalanya saya tidak tahan dengannya. Saya pernah keluar studio dengan marah... Hubungan kami dibangun di atas kepercayaan, meski kami saling benci." โ Dave Davies, kepada The Times.
Dave sendiri mengakui bahwa akar masalah mereka mungkin berasal dari masa kanak-kanak. "Saya suka bilang Ray hanya bahagia tiga tahun pertama hidupnyaโsampai saya lahir. Tapi dia tetap saudara saya," katanya. Kini, setelah puluhan tahun, keduanya menemukan kembali 'telepati' yang sudah ada sejak kecil. Sebuah rekonsiliasi yang, menurut Dave, sungguh ajaib.



