Pensiunnya Anthony Taylor: Suporter Roma Rayakan, Kenangan Pahit Final Europa League 2023
Baca dalam 60 detik
- Wasit Inggris Anthony Taylor pensiun setelah 16 tahun memimpin Premier League dan 14 tahun di daftar FIFA.
- Suporter AS Roma masih menyimpan dendam atas kepemimpinannya di final Europa League 2023 yang dianggap merugikan tim mereka.
- Momen kontroversial di Budapest itu memicu amukan Jose Mourinho dan berujung pada pengamanan ketat untuk Taylor dan keluarganya.

Pengumuman pensiunnya wasit asal Inggris, Anthony Taylor, disambut dengan perayaan sinis oleh suporter AS Roma. Bagi mereka, keputusan pria 47 tahun itu untuk menggantung peluit sudah tiga tahun terlambat—merujuk pada final Liga Europa 2023 yang hingga kini masih membekas sebagai luka.
Taylor, yang telah memimpin pertandingan selama 16 tahun di Premier League dan 14 tahun di daftar wasit FIFA, resmi mengakhiri kariernya. Dua edisi Piala Dunia pernah ia pimpin, namun namanya justru lebih dikenal di Italia karena satu laga: final Europa League 2023 antara Sevilla dan AS Roma. Kekalahan Roma di partai puncak itu dinilai tidak adil oleh kubu Giallorossi, terutama oleh pelatih saat itu, Jose Mourinho.
Mourinho dengan blak-blakan menyebut kepemimpinan Taylor berat sebelah, bahkan mengatakan "wasit itu seperti orang Spanyol"—merujuk pada lawan mereka. Ledakan emosi Mourinho tak berhenti di pinggir lapangan. Usai pertandingan, ia menghadang Taylor di area parkir stadion dan melontarkan makian, yang berujung pada larangan empat pertandingan dari UEFA. Insiden itu menjadi salah satu momen paling panas dalam sejarah final kompetisi Eropa.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah dampaknya terhadap Taylor secara pribadi. Suporter Roma yang kecewa mengetahui keberadaan Taylor dan keluarganya di bandara Budapest. Mereka mengerumuni dan melontarkan ancaman, sehingga petugas keamanan harus membentuk barikade untuk melindungi wasit tersebut. Dalam wawancara dengan BBC, Taylor mengakui itu adalah situasi terburuk yang pernah ia alami terkait pelecehan. "Bukan hanya karena saya bepergian dengan keluarga, tetapi juga menunjukkan dampak perilaku orang lain terhadap sesama. Padahal, dalam pertandingan itu tidak ada kesalahan besar," ujarnya.
Kendati tiga tahun telah berlalu, dendam suporter Roma tak kunjung padam. Begitu kabar pensiun Taylor diumumkan, media sosial dibanjiri unggahan bernada sarkastik. Beberapa menyebut pensiunnya "tiga tahun terlalu lambat", sementara yang lain menghela napas lega dengan tulisan "akhirnya bebas". Bahkan, ada yang membuat meme tidak pantas dengan menyandingkan foto tentara Perang Dunia II membaca koran bertuliskan 'Hitler Dead'—sebuah perbandingan yang dianggap berlebihan dan tidak perlu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa besarnya tekanan yang dihadapi wasit di level tertinggi. Di dalam negeri, polemik kepemimpinan wasit juga kerap memicu kemarahan suporter, meski jarang sampai pada ancaman fisik terhadap keluarga. Kejadian di Budapest menunjukkan bahwa batas antara kritik dan pelecehan seringkali tipis, dan dampaknya bisa meluas ke ranah personal. Pertanyaan yang tersisa: akankah UEFA dan federasi sepak bola nasional belajar dari insiden ini untuk memperkuat perlindungan terhadap perangkat pertandingan?



