Sengketa Gelar Piala Afrika: Senegal Ajukan Banding ke CAS, Sidang Digelar Oktober
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menjadwalkan sidang banding Senegal atas pencabutan gelar Piala Afrika 2025 pada 8 Oktober 2024.
- Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) membatalkan kemenangan Senegal di final karena dianggap melakukan forfeit setelah pemain meninggalkan lapangan.
- Keputusan CAS akan menjadi preseden penting bagi integritas kompetisi sepak bola Afrika, termasuk dampaknya terhadap persepsi penggemar di Indonesia.

Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) akhirnya menetapkan tanggal sidang untuk mendengarkan banding Federasi Sepak Bola Senegal atas keputusan kontroversial yang mencabut gelar juara Piala Afrika 2025 mereka. Sidang akan digelar pada 8 Oktober 2024 di markas CAS di Lausanne, Swiss, secara tertutup setelah pihak tergugat tidak meminta sidang terbuka.
Kisruh ini bermula dari final Piala Afrika edisi 2025 yang mempertemukan Senegal sebagai juara bertahan melawan tuan rumah Maroko. Dalam laga yang berlangsung sengit, Senegal unggul 1-0 melalui gol Pape Gueye di babak perpanjangan waktu. Namun, kemenangan itu ternoda setelah wasit memberikan hadiah penalti kontroversial kepada Maroko di masa injury time babak kedua. Para pemain Senegal yang kecewa sempat meninggalkan lapangan selama 17 menit sebagai bentuk protes. Setelah kembali, kiper Senegal berhasil menahan eksekusi Brahim Diaz, dan Senegal akhirnya menang di extra time.
Alih-alih mengesahkan hasil tersebut, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) justru memutuskan bahwa Senegal telah melakukan forfeit karena dianggap sengaja mengulur waktu dan meninggalkan pertandingan tanpa izin. CAF kemudian menganugerahkan kemenangan 3-0 kepada Maroko, sekaligus menjadikan mereka juara. Keputusan ini sontak memicu kemarahan publik Senegal dan memaksa federasi setempat mengajukan banding ke CAS pada 25 Maret lalu.
Dalam proses banding, Senegal meminta CAS untuk membatalkan keputusan CAF dan mengembalikan status juara kepada mereka. Namun, CAF dan Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) menolak permintaan percepatan prosedur, sehingga sidang baru bisa digelar pada Oktober mendatang. CAS menegaskan bahwa jadwal ini sesuai dengan prosedur standar, dan keputusan akhir tidak akan diumumkan pada hari sidang.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya regulasi yang jelas dalam menangani protes di lapangan. Di kompetisi domestik seperti Liga 1, insiden serupa pernah terjadi, meski tidak berujung pada pencabutan gelar. Keputusan CAS nantinya bisa menjadi acuan bagi federasi sepak bola di Asia Tenggara, termasuk PSSI, dalam menyusun aturan disiplin yang lebih tegas.
Para analis sepak bola menilai bahwa kasus ini menguji kredibilitas CAF sebagai induk organisasi sepak bola Afrika. Jika CAS memenangkan banding Senegal, hal itu bisa memicu gelombang kritik terhadap CAF dan mempertanyakan netralitasnya sebagai penyelenggara. Sebaliknya, jika CAS menolak banding, Senegal harus menerima kenyataan pahit kehilangan gelar yang sudah diraih di lapangan.
Terlepas dari hasil akhir, sidang Oktober mendatang akan menjadi momen krusial bagi masa depan sepak bola Afrika. Pertanyaannya, akankah CAS mengembalikan keadilan bagi Senegal, atau justru memperkuat otoritas CAF dalam mengambil keputusan kontroversial?



