Kartu Kuning dan Kontroversi: Sejauh Mana Inggris Berkembang di Bawah Borthwick?
Baca dalam 60 detik
- Timnas Inggris rugbi mencatatkan rekor disiplin terburuk di Six Nations dengan 14 kartu kuning dalam setahun, memicu kritik dari para mantan pemain.
- Meski menuai dua kemenangan tipis di Nations Championship, performa Inggris masih dihantui inkonsistensi dan ketergantungan pada pemain muda seperti Feyi-Waboso.
- Jelang Piala Dunia 2027, sembilan laga tersisa menjadi jendela terakhir bagi Steve Borthwick untuk membuktikan progres timnya.

Laju timnas rugbi Inggris di bawah asuhan Steve Borthwick masih menjadi teka-teki: di satu sisi mereka mampu menaklukkan Argentina dengan skor kontroversial 31-24, namun di sisi lain catatan disiplin yang buruk kembali mencuat. Dalam laga yang diwarnai kepemimpinan wasit yang kacau, Inggris mengumpulkan kartu kuning ke-14 mereka tahun ini—sebuah angka yang oleh mantan pemain scrum-half Matt Dawson disebut "verging on comical" atau nyaris menggelikan.
Musim panas ini menjadi ujian berat bagi Inggris setelah Rugby Football Union (RFU) secara resmi mendukung Borthwick pada Mei lalu, menyusul performa terburuk mereka di Six Nations sejak turnamen diperluas pada tahun 2000. Hanya satu kemenangan diraih di Six Nations, dan kekalahan telak dari juara dunia Afrika Selatan di Ellis Park sempat menambah tekanan. Namun, kemenangan tipis atas Fiji (73-8) dan Argentina—meski penuh kontroversi—memberi sedikit ruang napas.
Yang menjadi sorotan utama adalah masalah disiplin. Dalam delapan pertandingan sepanjang 2026, Inggris telah bermain dengan kekurangan pemain selama lebih dari dua jam total waktu pertandingan. Mantan scrum-half Danny Care, dalam wawancara dengan BBC Rugby Union Weekly, menekankan bahwa pelanggaran yang dilakukan bukanlah aksi brutal, melainkan kesalahan kecil yang muncul akibat tekanan. "Mereka harus segera memperbaikinya. Pemain senior dan pelatih punya tugas besar untuk membatasi hal ini, karena Anda tidak akan memenangkan pertandingan melawan tim terbaik dengan cara seperti itu," ujar Care.
Di sisi lain, serangan Inggris mulai menunjukkan kilasan positif. Pelatih serangan Lee Blackett berhasil meramu pola permainan yang merepotkan Afrika Selatan di beberapa momen, dan tampil impresif saat melibas Fiji. Namun, performa terbaik justru terlihat di babak pertama melawan Argentina. Mantan pemain sayap Ugo Monye memuji penampilan tersebut: "Babak pertama itu brilian. Inggris mendominasi, memerintah, dan mengendalikan segalanya."
Bintang muda Immanuel Feyi-Waboso, 23 tahun, menjadi sorotan utama. Dengan 12 kali membawa bola, ia melewati 13 pemain bertahan, mencatat 116 meter, dan menciptakan empat line break. Mantan pemain sayap Ugo Monye menambahkan, "Itu adalah pertandingan terbaik Manny untuk Inggris. Saya tidak tahu kenapa butuh waktu lama bagi Inggris untuk memanfaatkannya dengan benar." Namun, masalah kebugaran masih menghantui Feyi-Waboso, dan Inggris harus mengelola pemain seperti dia dan Tommy Freeman secara hati-hati dalam setahun ke depan.
Borthwick sendiri menunjukkan sisi defensif yang jarang terlihat. Saat ditanya mengenai konsistensi pemilihan pemain, ia menyindir, "Itu empat pemain baru dalam dua pekan terakhir—berapa banyak caps yang Anda inginkan?" Sikap ini mengingatkan pada pendekatan "kami melawan dunia" yang ia bangun menjelang Piala Dunia 2023, yang menurut Danny Care berhasil memotivasi tim. "Saya tidak keberatan dia sedikit membalas. Setidaknya itu menunjukkan perlawanan," ujar Care.
Dengan sembilan pertandingan tersisa sebelum pemanasan Piala Dunia 2027, jendela perubahan semakin sempit. Inggris saat ini duduk di posisi kedua klasemen sementara Nations Championship, hanya terpaut dua poin dari puncak. Mereka akan menjamu Australia, Jepang, dan Selandia Baru di Allianz Stadium pada November. Pertanyaannya, mampukah Borthwick mengatasi masalah disiplin dan inkonsistensi untuk benar-benar bersaing di panggung tertinggi? Atau justru siklus harapan dan kekecewaan akan terus berulang?



