Wales Yakin Jarak dengan Tim Elite Makin Tipis meski Dihajar Afrika Selatan
Baca dalam 60 detik
- Wales menelan kekalahan telak 43-0 dari Afrika Selatan di Nations Championship, namun kapten Jac Morgan optimistis performa tim terus meningkat.
- Dalam 12 laga musim ini, Wales hanya meraih tiga kemenangan dan kini berada di peringkat 11 dunia, tetapi Morgan menilai progres terlihat dari hasil melawan Skotlandia dan Irlandia.
- Jadwal padat melawan Jepang, Selandia Baru, dan Australia pada November menjadi ujian berikutnya bagi Wales menjelang Piala Dunia 2027.

Kapten Wales Jac Morgan menegaskan bahwa timnya semakin mendekati level tim-tim papan atas dunia, meskipun harus menelan kekalahan memalukan 43-0 dari juara dunia Afrika Selatan dalam lanjutan Nations Championship di Durban, akhir pekan lalu. Menurut Morgan, hasil buruk itu tidak mencerminkan perkembangan yang telah dicapai skuad asuhan Steve Tandy sepanjang musim ini.
Kekalahan dari Springboks menjadi pukulan berat setelah Wales sebelumnya juga takluk dari Argentina. Namun, Morgan menilai bahwa pertandingan melawan Fiji yang berhasil dimenangkan 39-24 di Cardiff pada putaran pertama menunjukkan kapasitas tim untuk bersaing. "Kami melihat kemajuan sejak musim gugur lalu. Skuad ini terus berkembang, terutama dari performa melawan Skotlandia dan Irlandia di Six Nations," ujar Morgan, yang musim depan akan membela Gloucester setelah pindah dari Ospreys.
Musim pertama Wales di bawah pelatih Steve Tandy ditutup dengan catatan tiga kemenangan dari 12 pertandingan, masing-masing melawan Jepang, Italia, dan Fiji. Peringkat dunia Wales justru naik ke posisi 11 berkat kekalahan telak Italia dari Australia, sebuah ironi yang menggambarkan inkonsistensi tim. Namun, Morgan menekankan bahwa semangat kebersamaan menjadi modal utama. "Kami adalah kelompok yang sangat kompak, semua orang ingin belajar dan terus berkembang," katanya.
Di tengah kritik tajam dari publik dan media, Morgan yang juga merupakan pemain British and Irish Lions itu menegaskan bahwa timnya tidak akan berhenti berbenah. Cedera bahu yang dideritanya setelah laga melawan Argentina di awal masa kepelatihan Tandy membuatnya absen dalam delapan pertandingan, namun ia optimistis Wales bisa tampil lebih kompetitif di Piala Dunia 2027. Di babak grup, Wales akan bertemu Inggris, Tonga, dan Zimbabwe.
Bagi pengamat rugbi Indonesia, perkembangan Wales ini menarik untuk dicermati mengingat Indonesia juga tengah membangun tim nasional rugbi. Strategi Wales yang mengandalkan regenerasi pemain dan pengalaman bertanding melawan tim-tim kuat bisa menjadi pelajaran berharga. Apalagi, Indonesia dijadwalkan tampil di ajang internasional dalam beberapa tahun ke depan. Pertanyaannya, mampukah Wales benar-benar menutup jarak dengan tim elite seperti Afrika Selatan dan Selandia Baru dalam waktu dekat? Ataukah optimisme Morgan hanya akan menjadi mimpi di siang bolong?



