Ben Earl Kritik Format Nations Championship: Jadwal Brutal Bikin Pemain Kelelahan
Baca dalam 60 detik
- Pemain Inggris Ben Earl menuntut perubahan format Nations Championship setelah timnya menjalani tiga laga di tiga benua dalam tiga pekan berturut-turut.
- Perjalanan sejauh 25.000 mil dan delapan penerbangan dalam sebulan menyebabkan pemain kehilangan waktu tidur dan latihan berkurang drastis.
- Earl mengusulkan turnamen dipusatkan di satu negara untuk mengurangi beban perjalanan, meski ia sadar format ini baru permulaan.

Ben Earl, pemain nomor delapan tim nasional Inggris, menyerukan perubahan format Nations Championship setelah timnya menjalani jadwal pertandingan yang ia sebut "brutal" pada leg musim panas kompetisi perdana tersebut. Inggris harus memainkan tiga laga uji coba di tiga benua berbeda dalam tiga akhir pekan berturut-turut, menempuh total perjalanan hingga 25.000 mil.
Kemenangan atas Argentina pada Sabtu lalu menjaga peluang tim asuhan Steve Borthwick untuk lolos ke final yang akan digelar pada 29 November di Allianz Stadium, Twickenham. Namun, di balik hasil positif itu, para pemain harus membayar mahal dengan kondisi fisik dan mental yang terkuras. Empat penerbangan jarak jauh dan empat penerbangan pendek dalam empat pekan terakhir menyebabkan gangguan tidur dan pengurangan jadwal latihan secara signifikan.
"Ini brutal, tidak ada kata lain untuk menggambarkannya," ujar Earl kepada media setelah pertandingan. "Kami sudah membicarakan hal iniโmengapa tidak semua pertandingan digelar di satu negara? Dengan begitu Anda tidak perlu bepergian, Anda pergi ke satu negara dan merasakan suasana festival."
Earl, yang juga bermain untuk Saracens, mengakui bahwa ia bukan pengambil keputusan, tetapi ia menekankan bahwa beban perjalanan ini sangat berat, terutama karena datang di akhir musim yang sudah panjang bagi sebagian besar pemain. "Pulang pergi, kembali ke Inggris, bertemu keluarga, lalu pergi lagi. Rasanya agak aneh, tapi ini adalah sesuatu yang harus kami biasakan karena saya pikir ini baru permulaan," tambahnya.
Kritik Earl menyoroti tantangan logistik yang dihadapi tim-tim peserta Nations Championship, kompetisi baru yang dirancang untuk menggantikan jendela pertandingan internasional tradisional. Namun, format yang mengharuskan tim bepergian lintas benua dalam waktu singkat menuai protes dari pemain dan staf pelatih. Bagi Inggris, jadwal ini termasuk laga melawan Jepang di Tokyo, Selandia Baru di Auckland, dan Argentina di Londonโsebuah rangkaian yang menuntut adaptasi cepat terhadap perbedaan zona waktu dan iklim.
Dari sudut pandang Indonesia, meski tidak terlibat langsung dalam kompetisi ini, isu kesejahteraan pemain menjadi relevan mengingat semakin banyak atlet Indonesia yang berkarier di luar negeri dan menghadapi jadwal perjalanan serupa. Federasi rugbi Indonesia, yang tengah mengembangkan olahraga ini di tingkat nasional, dapat belajar dari pengalaman Inggris dalam mengelola kelelahan pemain akibat perjalanan jarak jauh. Selain itu, Nations Championship yang baru lahir ini bisa menjadi preseden bagi turnamen olahraga global lainnya dalam menyeimbangkan kepentingan komersial dengan kesehatan atlet.
Kompetisi akan kembali bergulir pada leg musim gugur, dengan Inggris dijadwalkan menghadapi Australia pada 8 November. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah World Rugby mendengarkan keluhan para pemain dan merevisi format sebelum turnamen ini menjadi permanen? Atau justru kompetisi ini akan menjadi standar baru yang harus diterima semua pihak?



