Samsung Rilis Kartu Kredit Perdana di AS, Siap Bersaing dengan Apple Pay
Baca dalam 60 detik
- Samsung meluncurkan kartu kredit co-branded pertama di AS bersama Barclays, menandai langkah agresif di sektor jasa keuangan.
- Kartu Samsung Galaxy menawarkan cashback 5% dan terintegrasi penuh dengan Samsung Wallet, menyaingi dominasi Apple Pay.
- Langkah ini membuka peluang ekspansi layanan keuangan digital di Indonesia, di mana Samsung dan Apple bersaing ketat.

Samsung Electronics resmi meluncurkan kartu kredit co-branded pertamanya di Amerika Serikat bersama Barclays, menandai babak baru persaingan raksasa teknologi di ranah jasa keuangan digital. Langkah ini tidak hanya memperdalam penetrasi Samsung di sektor finansial, tetapi juga menempatkannya dalam persaingan langsung dengan Apple Pay yang selama ini mendominasi pasar pembayaran AS.
Kartu yang diberi nama Samsung Galaxy Card ini diterbitkan oleh Barclays dan berjalan di jaringan Visa. Seluruh proses pengajuan, pengelolaan akun, pelacakan transaksi, hingga penukaran poin reward dapat dilakukan melalui Samsung Wallet. Keunggulan utama kartu ini adalah cashback 5% untuk setiap pembelian produk Samsung, plus reward tambahan untuk transaksi via Samsung Pay dan kategori belanja lainnya.
Peluncuran ini terjadi di tengah perlombaan antara perusahaan teknologi dan bank untuk memperkuat keterkaitan antara dompet digital dan produk keuangan. Tujuannya jelas: menjadikan ponsel pintar sebagai pusat pembayaran dan pengelolaan uang. Samsung dan Barclays sama-sama ingin memanfaatkan momentum ini.
Doug Villone, Kepala Kartu dan Kemitraan Barclays US Consumer Bank, menyatakan bahwa kartu digital ini dirancang untuk menciptakan pengalaman pembayaran yang lebih mulus bagi konsumen yang semakin mengandalkan perangkat seluler. Sementara itu, Sih Lee, Wakil Presiden Eksekutif Samsung Electronics, mengungkapkan bahwa 70% rumah tangga di AS memiliki perangkat Samsung, dan hampir 30% memiliki tiga produk Samsung atau lebih. Data ini menjadi modal kuat bagi Samsung untuk menjaring basis pengguna setianya.
Lee juga menegaskan bahwa kemitraan dengan Barclays bersifat strategis dan jangka panjang. "Kami berniat untuk berkolaborasi dan menjajaki semua kemungkinan produk dan kemampuan yang dapat kami tawarkan kepada pelanggan," ujarnya, mengisyaratkan ambisi Samsung untuk melampaui sekadar kartu kredit. Barclays pun membuka peluang untuk memperluas kerja sama di masa depan. "Saat kami menandatangani kemitraan, kami secara alami mencari cara untuk memperluasnya seiring waktu jika memang masuk akal bagi konsumen," tambah Villone.
Bagi Indonesia, langkah Samsung ini patut dicermati. Pasar pembayaran digital di Tanah Air sudah sangat ramai dengan pemain seperti GoPay, OVO, DANA, dan LinkAja. Namun, kehadiran kartu kredit co-branded yang terintegrasi dengan dompet digital bisa menjadi model baru. Samsung selama ini juga memiliki basis pengguna yang besar di Indonesia melalui lini ponsel Galaxy-nya. Jika strategi serupa diterapkan di sini, persaingan dengan Apple Payโyang belum resmi masuk Indonesiaโatau dengan layanan keuangan dari perusahaan teknologi lokal bisa semakin sengit.
Barclays sendiri terus memperkuat bisnis kartunya di AS. Pada 2024, bank tersebut mengakuisisi bisnis kartu kredit General Motors, yang memungkinkan nasabah mengumpulkan dan menukarkan poin reward untuk pembelian mobil Buick, Cadillac, dan kendaraan listrik GM. Akuisisi ini memperluas jejak kartu Barclays di AS dan menunjukkan keseriusan mereka dalam menjalin kemitraan strategis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Samsung akan membawa model kartu kredit terintegrasi ini ke pasar lain, termasuk Asia Tenggara. Dengan penetrasi smartphone yang tinggi dan adopsi dompet digital yang pesat di Indonesia, bukan tidak mungkin langkah serupa akan dipertimbangkan. Yang jelas, persaingan antara raksasa teknologi untuk menguasai dompet digital konsumen baru saja dimulai.



