Lukisan Sawah di Jepang Tampilkan Idol Lokal, Begini Wujudnya
Baca dalam 60 detik
- Desa Inakadate di Prefektur Aomori, Jepang, kembali menghadirkan seni padi dengan tema hantu dan grup idola Ringomusume.
- Karya seni ini menggunakan 12 varietas padi dalam delapan warna, menciptakan ilusi tiga dimensi yang memukau pengunjung.
- Puncak musim melihat seni padi berlangsung hingga pertengahan Agustus, menarik wisatawan domestik dan mancanegara.

Seni lukis sawah yang dibuat dari tanaman padi berwarna-warni di Desa Inakadate, Prefektur Aomori, Jepang, telah memasuki puncak musim penikmatannya. Desa yang dikenal sebagai tempat kelahiran seni padi ini sejak 1993 rutin menghadirkan kreasi spektakuler yang menyatu dengan alam.
Tahun ini, dua lokasi utama menjadi pusat perhatian. Di belakang kantor desa, pengunjung disuguhi lukisan hantu yang terinspirasi dari lukisan klasik "Hangonko no zu" karya seniman era Edo, Maruyama Okyo, serta versi kontemporer "Reiwa Hangonko no zu" buatan mangaka asal Hirosaki, Chihiro Ishizuka. Sementara itu, di stasiun pinggir jalan Michi-no-Eki Inakadate "Yayoi no Sato", keempat personel grup idola lokal Ringomusume diabadikan dalam hamparan sawah seluas lapangan bola.
Pembuatan seni padi ini melibatkan 12 varietas padi dengan delapan warna berbeda. Perpaduan warna yang ditanam secara presisi menciptakan gradasi dan bayangan yang membuat gambar tampak tiga dimensi. "Pewarnaannya indah dan membuat gambar terlihat tiga dimensi," ujar Pink Lady, pemimpin grup Ringomusume, saat menghadiri upacara puncak musim pada 18 Juli lalu. Rekan satu grupnya, Kinsei, menambahkan, "Saya berharap orang-orang juga akan merasa lebih dekat dengan Ringomusume."
Bagi Indonesia, seni padi ala Inakadate bisa menjadi inspirasi pengembangan agrowisata. Beberapa daerah di Tanah Air, seperti Jatiluwih di Bali atau kawasan pertanian di Yogyakarta, sebenarnya memiliki potensi serupa. Namun, belum ada yang mengolah sawah menjadi kanvas seni berskala besar seperti di Jepang. Kolaborasi antara petani, seniman, dan pemerintah desa menjadi kunci sukses Inakadate yang patut ditiru.
Seni padi Inakadate tidak hanya soal estetika, tetapi juga pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal. Dengan mengangkat motif hantu klasik dan idola modern, desa ini berhasil menjembatani tradisi dan kekinian. Pengunjung pun bisa menikmati keindahan dari dek observasi yang disediakan khusus.
Musim terbaik untuk menyaksikan karya seni ini berlangsung hingga pertengahan Agustus. Setelah itu, padi akan dipanen seperti biasa, dan siklus kreativitas akan dimulai lagi tahun depan. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengadopsi model serupa untuk memajukan desa wisata?



