Piala Dunia 2026 Jadi Batu Loncatan MLS Menuju Level Elite
Baca dalam 60 detik
- MLS memanfaatkan gelaran Piala Dunia 2026 untuk menarik minat penggemar baru, termasuk dengan kampanye global yang melibatkan bintang seperti Messi dan Son.
- Liga sepak bola Amerika Serikat ini mencatat rekor penonton televisi selama turnamen, dengan laga Inggris vs Meksiko ditonton 45 juta pemirsa.
- Ambisi MLS menyamai liga Eropa terganjal oleh budaya 'pay-to-play' dalam pembinaan usia muda, meski akademi klub sudah gratis.

Piala Dunia 2026 menjadi momentum krusial bagi Major League Soccer (MLS) untuk melejit ke jajaran liga elite dunia. Dengan 45 pemainnya yang tampil di turnamen, termasuk Lionel Messi dan Son Heung-min, MLS menggelar kampanye agresif bertajuk "Thanks world, We'll take it from here" yang menampilkan para bintangnya. Liga ini bahkan menawarkan tiket gratis bagi penggemar baru yang terpikat oleh atmosfer Piala Dunia.
MLS lahir sebagai warisan langsung Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, saat FIFA mewajibkan pembentukan liga profesional sebagai syarat menjadi tuan rumah. Dimulai pada 1996 dengan 10 tim dan tanpa satu pun stadion khusus sepak bola, kini MLS memiliki 30 klub dan hampir seluruhnya bermarkas di stadion yang dirancang untuk sepak bola. Pertumbuhan ini tidak lepas dari sukses penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang memecahkan rekor penonton televisi.
Laga Inggris vs Meksiko di babak 16 besar menjadi pertandingan sepak bola paling banyak ditonton dalam sejarah AS, dengan 45 juta pemirsa di Fox dan Telemundo. Angka ini mendekati rata-rata penonton NFL, meski masih jauh dari Super Bowl yang mencapai 127,7 juta penonton pada 2025. Komisioner MLS Don Garber optimistis: "Kami sudah memecahkan kode komersial. Sekarang kami harus memecahkan sisanya."
Namun, jalan menuju level elite tidak mulus. Kritik utama tertuju pada sistem pembinaan usia muda yang masih menganut budaya "pay-to-play". Meski akademi MLS gratis untuk pemain yang sudah teridentifikasi, akses menuju level tersebut membutuhkan biaya ribuan dolar untuk les privat dan tim perjalanan. Fenomena ini lazim di olahraga AS, namun menjadi hambatan serius dalam menjaring bakat dari berbagai latar belakang ekonomi. Komisioner Garber mengakui tantangan ini dan berjanji terus meningkatkan pengembangan pemain muda agar dapat menyumbang lebih banyak talenta bagi tim nasional.
Daya tarik MLS juga ditopang oleh kepemilikan selebritas. Lebih dari dua dozen artis dan atlet memiliki saham di klub MLS, termasuk Will Ferrell (LAFC), Reese Witherspoon (Nashville SC), dan Magic Johnson (LAFC). Drew Carey, yang membeli saham Seattle Sounders seharga US$30 juta pada 2009, kini nilai klubnya mencapai lebih dari US$900 juta. David Beckham, yang memanfaatkan opsi pembelian tim ekspansi seharga US$25 juta, kini memiliki Inter Miami yang bernilai lebih dari US$1 miliar.
Meski euforia Piala Dunia melanda AS, sepak bola masih harus bersaing dengan American football yang mengakar kuat dalam budaya populer. Brian Udovich, orang tua pemain muda MLS Next Level di California Selatan, mengungkapkan bahwa banyak remaja berbakat beralih ke American football karena sorotan dan kemeriahan yang lebih besar. "Pada Jumat malam, pemain American football mendapat sorotan dengan marching band dan pemandu sorak. Sepak bola biasanya Sabtu pagi dengan orang tua di kursi lipat," ujarnya. Pelatih New York Red Bulls, Michael Bradley, menambahkan bahwa inferioritas historis mulai luntur. "Kini kami bisa mengatakan dengan pasti: pada 2026, sepak bola tidak akan kemana-mana."
Bagi Indonesia, perkembangan MLS menawarkan pelajaran berharga. Liga sepak bola di Tanah Air juga tengah berupaya meningkatkan kualitas kompetisi dan pembinaan usia dini. Keberhasilan MLS memanfaatkan Piala Dunia sebagai katalis pertumbuhan—baik dari segi infrastruktur, komersialisasi, maupun perhatian publik—bisa menjadi referensi bagaimana sebuah liga dapat bertransformasi. Pertanyaan besarnya: mampukah MLS benar-benar menembus dominasi Eropa, atau akankah budaya olahraga AS yang khas tetap menjadi penghalang?



