Bos Tim Balap Jonathan Vaughters: Tes Doping Subuh Bisa Mengungkap Era Doping Darah Jauh Lebih Awal
Baca dalam 60 detik
- Tes doping dini hari di Tour de France menuai protes dari pebalap karena mengganggu istirahat, namun mantan pebalap Jonathan Vaughters menilai metode itu efektif mencegah mikro-dosis.
- Vaughters, yang pernah mengaku doping, menyebut jika tes serupa diterapkan pada 2001, olahraga balap sepeda bisa terhindar dari skandal doping selama 25 tahun.
- Asosiasi Pebalap Profesional meminta otoritas anti-doping meningkatkan investasi riset, bukan sekadar mengandalkan tes malam yang dinilai membahayakan kesehatan atlet.

Kontroversi tes doping dini hari di Tour de France 2024 memantik perdebatan sengit antara pebalap dan otoritas anti-doping. Di tengah protes yang menyebut praktik itu tidak manusiawi, mantan pebalap profesional yang kini menjadi bos tim Cannondale-EF, Jonathan Vaughters, justru membela langkah tersebut. Menurutnya, andai tes serupa diterapkan dua dekade lalu, era doping darah dalam balap sepeda bisa terungkap jauh lebih awal.
Pada pekan lalu, pebalap seperti Tadej Pogacar dan Jonas Vingegaard dibangunkan dari tidur untuk menjalani tes doping tak terduga. Vingegaard, yang diuji pada pukul 02.00 dini hari, mengaku kehilangan sekitar 40 menit waktu istirahat sebelum akhirnya mengalami kecelakaan dan patah tulang selangka di etape pegunungan. Sementara Pogacar, yang diuji pukul 05.00, hanya bisa tidur empat jam. Juara etape Remco Evenepoel menyebut praktik itu “tidak manusiawi”.
Vaughters, yang pernah menjadi rekan setim Lance Armstrong di US Postal Service dan kemudian mengaku menggunakan doping seperti EPO, menilai tes malam adalah cara paling efektif untuk mencegah mikro-dosis peptida dan testosteron. “Jika UCI menguji kami pada pukul 02.00 tahun 2001, kami semua akan diskors dan olahraga ini terhindar dari drama selama 25 tahun,” tulisnya di media sosial. Pernyataannya memiliki bobot karena ia kemudian menjadi saksi kunci dalam investigasi USADA yang menjatuhkan Armstrong.
Badan Pengujian Internasional (ITA) yang mengawasi kontrol doping untuk UCI mengakui bahwa tes malam dapat mengganggu istirahat pebalap. Namun, mereka menegaskan bahwa pengujian efektif harus dilakukan di luar jam siang dalam “kondisi terbatas dan beralasan”. Kekhawatiran utama adalah praktik mikro-dosis zat seperti EPO dan hormon pertumbuhan manusia yang cepat hilang dari tubuh, sehingga tes rutin di siang hari tidak akan menangkapnya.
Di sisi lain, Asosiasi Pebalap Profesional (CPA) menyuarakan keprihatinan serius. Dalam pernyataan resmi, CPA menekankan bahwa kualitas tidur dan pemulihan sangat penting tidak hanya untuk performa tetapi juga kesehatan dan keselamatan pebalap. Mereka menilai praktik tes malam justru menghambat pemulihan atlet di ajang balap paling berat di dunia dan bertentangan dengan tujuan yang diinginkan. CPA mendesak otoritas anti-doping untuk meningkatkan investasi dalam riset ilmiah dan teknologi deteksi, bukan sekadar mengandalkan tes yang mengorbankan istirahat atlet.
Bagi Indonesia, perdebatan ini relevan mengingat semakin banyak atlet Tanah Air yang berpartisipasi di ajang internasional. Regulasi anti-doping yang ketat namun tetap menghormati hak atlet menjadi kebutuhan mendesak. Pengalaman Vaughters menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih cerdas—bukan sekadar represif—dapat membersihkan olahraga tanpa mengorbankan kesejahteraan atlet. Pertanyaannya, akankah otoritas olahraga global menemukan keseimbangan antara efektivitas deteksi dan perlindungan atlet?



