Trump Sambut Dodgers ke Gedung Putih: 'Salah Satu Merek Terbesar di Dunia'
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menjamu juara World Series Los Angeles Dodgers di Gedung Putih, memuji tim sebagai merek global.
- Acara di Rose Garden menampilkan dua trofi World Series dan canda Trump soal laporan hadiah cincin kejayaan.
- Kunjungan ini terjadi di tengah eskalasi konflik Iran, yang disebut Trump sebagai alasan tak bisa mengikuti baseball secara dekat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menerima Los Angeles Dodgers di Gedung Putih, Kamis (24/7/2026), untuk merayakan gelar juara World Series kedua mereka secara beruntun. Dalam acara yang digelar di Rose Garden, Trump menyebut tim bisbol asal California itu sebagai "salah satu merek terbesar di dunia" dan melontarkan harapan untuk melihat mereka lagi tahun depan.
Dodgers, yang mengalahkan Toronto Blue Jays di Game 7 musim lalu, menjadi tim pertama sejak New York Yankees era 1998-2000 yang memenangi dua gelar beruntun. Trump mengaku terkejut mengetahui fakta tersebut, namun langsung berseloroh tentang kemungkinan "three-peat". Manajer Dave Roberts pun menimpali, "Kami akan mencoba three-peat."
Acara ini merupakan kunjungan kedua Dodgers ke Gedung Putih dalam waktu 15 bulan. Sebelumnya, pada April 2025, Trump menjamu mereka di East Room untuk merayakan gelar 2024 atas New York Yankees. Kali ini, Trump mengaku paling antusias bertemu Shohei Ohtani, yang ia bandingkan dengan legenda Babe Ruth. "Dia mungkin pemukul dan pelempar terbaik dalam bisbol," ujar Trump.
Trump juga menerima replika cincin World Series dari tim. Saat menerima hadiah tersebut, ia bercanda, "Wow. Apa aku harus melaporkan ini? Aku tidak mau melaporkan ini," sambil memasukkan cincin ke dalam saku jasnya. Candaannya mengundang tawa hadirin yang mengenakan topi Dodgers biru untuk melindungi diri dari sinar matahari.
Dalam sambutannya, Trump menceritakan Game 3 World Series yang berlangsung 18 inning dan berakhir 6-5 untuk Dodgers. Ia mengaku begadang hingga pukul 3 pagi untuk menonton. "Kukira kalian akan kalah empat atau lima kali, tapi akhirnya menang. Keberuntungan juga penting, kan?" katanya. Roberts setuju, "Keberuntungan itu penting." Trump menambahkan, "Tapi dengan bakat, kamu mendapat banyak keberuntungan."
Menariknya, Trump hanya sekali menyinggung konflik di Timur Tengah, dengan mengatakan bahwa ia "sedikit sibuk dengan Iran dan beberapa hal lain" sehingga tidak bisa mengikuti bisbol secara dekat. Pernyataan itu menjadi satu-satunya referensi terhadap perang yang sedang meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Kunjungan tim olahraga ke Gedung Putih era Trump kerap menuai kontroversi. Pada 2018, ia membatalkan undangan untuk juara Super Bowl Philadelphia Eagles setelah banyak pemain mengindikasikan akan memboikot. Namun, kali ini tidak ada tanda-tanda ketegangan. Hanya Mookie Betts, pemain luar bintang Dodgers, yang absen dengan alasan ingin menghabiskan hari libur bersama keluarga.
Bagi pembaca di Indonesia, kunjungan ini menyoroti bagaimana olahraga menjadi alat diplomasi dan pencitraan politik. Di tengah ketegangan global, momen seperti ini mengingatkan bahwa soft power tetap menjadi instrumen penting dalam hubungan internasional. Meski tidak berdampak langsung pada Indonesia, pola hubungan antara Gedung Putih dan atlet papan atas bisa menjadi pelajaran tentang pengelolaan citra publik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Dodgers benar-benar mampu meraih three-peat, dan apakah Trump akan kembali menjamu mereka tahun depan. Dengan jadwal politik yang padat dan konflik yang belum mereda, tradisi ini bisa menjadi barometer hubungan antara olahraga dan politik di Amerika Serikat.



