Dua Korban Masih Tertimbun di Reruntuhan Grand Polonia, Tim SAR Terkendala Akses Sempit
Baca dalam 60 detik
- Tim SAR gabungan masih berjuang mengevakuasi dua korban yang diduga tertimbun di reruntuhan rumah mewah Grand Polonia, Medan, pasca-ledakan Senin lalu.
- Kepala Basarnas Medan menyebut akses sempit ke lantai dua dan material bangunan yang labil menjadi kendala utama dalam proses evakuasi.
- Satu korban perempuan telah ditemukan meninggal dan dievakuasi dini hari tadi; penyebab ledakan sementara diduga akibat kebocoran gas bawah tanah.

Upaya pencarian dua korban yang masih tertimbun reruntuhan rumah mewah di Perumahan Grand Polonia, Medan, terus berlangsung dengan sejumlah hambatan teknis di lapangan. Kepala Basarnas Kelas A Medan, Hery Marantika, mengungkapkan bahwa akses menuju lantai dua yang sangat sempit dan kondisi bangunan yang tidak stabil menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat.
Ledakan dahsyat yang terjadi pada Senin (20/7/2026) sekitar pukul 15.30 WIB menghancurkan rumah nomor 3B, sebuah bangunan bertingkat tiga. Kekuatan ledakan tidak hanya meruntuhkan struktur utama, tetapi juga merusak tiga unit mobil yang terparkir di depan serta sejumlah rumah di sekitarnya. Hingga Selasa (21/7/2026) siang, tim SAR gabungan masih berfokus pada evakuasi dua korban yang diduga terjebak di reruntuhan.
Menurut Hery, satu korban perempuan berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa dini hari pukul 02.20 WIB dan telah diserahkan kepada keluarga. "Kami memperkirakan masih ada dua korban lagi yang belum ditemukan," ujarnya di lokasi kejadian. Proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati mengingat risiko runtuhan susulan yang dapat membahayakan petugas.
Kendala teknis yang dihadapi tim SAR meliputi akses sempit menuju lantai dua serta material bangunan yang labil. "Material yang runtuh sangat berbahaya bagi tim saat masuk ke lokasi pencarian," jelas Hery. Kondisi ini memaksa petugas untuk bekerja secara bertahap dan menggunakan alat berat untuk membersihkan puing-puing tanpa memicu longsoran baru.
Penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan kepolisian dan instansi terkait. Namun, hasil investigasi awal mengarah pada dugaan kebocoran gas dari jaringan pipa bawah tanah yang melintasi area rumah. Jika terbukti, insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan akibat kebocoran gas di kawasan pemukiman padat di Indonesia. Peristiwa serupa sebelumnya pernah terjadi di beberapa kota besar, menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang signifikan.
Masyarakat sekitar diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan jika mencium bau gas atau melihat tanda-tanda kebocoran. Sementara itu, tim SAR terus berupaya maksimal untuk menyelesaikan evakuasi sebelum kondisi bangunan semakin memburuk. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah regulasi pengawasan jaringan gas bawah tanah di kawasan perumahan sudah cukup ketat untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali?



