Samsung Bentuk Divisi Robotik Khusus, Targetkan Pertumbuhan Baru di Luar Ponsel
Baca dalam 60 detik
- Samsung Electronics meresmikan divisi robotik bernama RX yang langsung berada di bawah CEO untuk mempercepat riset dan komersialisasi.
- Langkah ini menandai pergeseran strategi Samsung dari ketergantungan pada bisnis ponsel dan semikonduktor menuju otomasi dan kecerdasan buatan.
- Bagi Indonesia, ekspansi Samsung di robotik berpotensi memperkuat rantai pasok manufaktur dan membuka peluang investasi di sektor teknologi.

Samsung Electronics resmi membentuk divisi robotik khusus yang diberi nama Robotics eXperience (RX) dan langsung berada di bawah kendali CEO. Langkah ini menjadi sinyal bahwa raksasa teknologi asal Korea Selatan itu serius menjadikan robot sebagai mesin pertumbuhan baru di tengah persaingan global yang makin ketat.
Divisi RX akan bertanggung jawab merumuskan strategi jangka menengah-panjang di bidang robotik, mengembangkan teknologi inti, serta mengeksekusi rencana bisnis. Samsung juga berencana memperluas kapasitas riset di dalam dan luar negeri untuk mempercepat pengembangan produk. Keputusan ini diumumkan pada Selasa (21/7) dan langsung menjadi sorotan karena menandai perubahan haluan strategis perusahaan yang selama ini dikenal lewat bisnis ponsel dan semikonduktor.
Langkah Samsung ini tidak bisa dilepaskan dari tren global di mana perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Tesla, Amazon, dan Xiaomi juga gencar menggarap robot humanoid dan otomasi industri. Samsung sendiri sebenarnya sudah lama memiliki laboratorium riset robotik, tetapi dengan pembentukan divisi tersendiri yang melapor langsung ke CEO, status robotik kini naik kelas menjadi prioritas korporasi.
Bagi Indonesia, langkah Samsung ini memiliki implikasi yang tidak kecil. Sebagai salah satu basis manufaktur Samsung di Asia Tenggara, Indonesia berpotensi menjadi lokasi pengembangan atau produksi komponen robotik. Selama ini Samsung telah memiliki pabrik ponsel dan peralatan elektronik di Cikarang dan Batam. Jika robotik mulai diproduksi massal, bukan tidak mungkin Indonesia akan dilirik sebagai bagian dari rantai pasok global Samsung.
Menurut analis industri teknologi di Jakarta, langkah Samsung juga bisa memicu persaingan di sektor robotik Indonesia yang selama ini masih didominasi oleh pemain China dan Jepang. โSamsung punya ekosistem komponen yang kuat, mulai dari chip hingga sensor. Ini bisa menjadi nilai tambah jika mereka serius masuk ke pasar robotik Indonesia,โ ujar seorang pengamat teknologi yang enggan disebut namanya.
Namun, tantangan tetap ada. Regulasi terkait impor komponen robotik dan standar keselamatan masih perlu diperjelas. Selain itu, sumber daya manusia di bidang robotika di Indonesia masih terbatas. Samsung kemungkinan akan mengandalkan tenaga ahli dari luar negeri atau bekerja sama dengan universitas lokal untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Samsung akan fokus pada robot konsumen seperti robot pembersih atau justru robot industri untuk pabrik. Keduanya punya pasar yang besar di Indonesia, tetapi dengan dinamika yang berbeda. Jika Samsung memilih robot industri, maka sektor manufaktur Indonesia bisa mendapat dorongan efisiensi yang signifikan.



