Kamera Murah Bikinan Universitas Kumamoto Jadi Andalan Warga Pantau Bencana Banjir
Baca dalam 60 detik
- Kamera 'Kuma Camera' seharga Rp1 jutaan memungkinkan warga memantau banjir dan longsor secara real-time lewat aplikasi Line.
- Inovasi ini lahir pasca banjir besar Kyushu 2020 dan telah diadopsi sembilan komunitas di Prefektur Kumamoto, Jepang.
- Model partisipatif warga dalam pemasangan dan penggunaan kamera bisa menjadi inspirasi bagi daerah rawan bencana di Indonesia.

Warga di Prefektur Kumamoto, Jepang, mulai memanfaatkan kamera berbiaya rendah yang terhubung internet untuk memantau kondisi jalan dan sungai saat hujan deras, sebuah langkah konkret dalam kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas.
Kamera yang dijuluki "Kuma Camera" ini dikembangkan oleh tim peneliti dari Prefectural University of Kumamoto menyusul bencana banjir bandang Juli 2020 yang meluluhlantakkan wilayah Kyushu bagian barat daya. Dengan harga sekitar 10.000 hingga 15.000 yen (setara Rp1โ1,5 juta), perangkat ini tergolong murah dan bisa langsung beroperasi hanya dengan colokan listrik rumah tangga.
Michiyo Harada, warga berusia 55 tahun yang bertanggung jawab atas kesiapsiagaan bencana di asosiasi lingkungannya, baru saja memasang kamera tersebut di kediamannya dekat Danau Ezu pada 7 Juli lalu. Ia mengaku daerah tempat tinggalnya kerap mengalami banjir rob saat hujan deras, dan sebagai ahli pencegahan bencana bersertifikat, ia sudah lama mencari solusi pemantauan yang aman.
"Keluar rumah untuk mengecek kondisi saat hujan lebat sangat berbahaya. Dengan Kuma Camera, kami bisa melihat dengan jelas seberapa tinggi kenaikan air, sehingga keputusan awal evakuasi bisa diambil lebih cepat," ujar Harada, seperti dikutip dari Mainichi Shimbun.
Takuma Sato, direktur perwakilan organisasi nirlaba Kumaguma yang mempromosikan sistem ini, mengatakan bahwa kamera tersebut dipasang di sembilan komunitas di seluruh prefektur. Warga sendiri yang memutuskan lokasi dan fungsi kamera, mulai dari memantau sungai, memeriksa genangan jalan, hingga mencegah kerusakan akibat satwa liar.
Keunikan sistem ini terletak pada pendekatan "bottom-up" โ warga menjadi penggerak utama, bukan menunggu instruksi dari atas. Mereka mendaftar ke akun resmi area masing-masing di aplikasi Line untuk menonton siaran langsung kamera, informasi banjir, dan pembaruan lokal lainnya. Bahkan anggota keluarga yang tinggal jauh pun bisa ikut memantau.
Bagi Indonesia, model partisipatif semacam ini relevan mengingat banyak daerah rawan bencana yang belum memiliki sistem peringatan dini berbasis komunitas yang terjangkau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 3.000 bencana hidrometeorologi terjadi setiap tahun, dan keterbatasan akses informasi seringkali menghambat evakuasi mandiri. Inovasi seperti Kuma Camera bisa menjadi alternatif murah yang memberdayakan warga.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memperluas adopsi dan memastikan keberlanjutan sistem. Apakah inisiatif serupa bisa diadaptasi di Indonesia dengan memanfaatkan platform pesan instan yang sudah populer seperti WhatsApp? Atau justru perlu dikembangkan aplikasi khusus yang terintegrasi dengan data BMKG? Pertanyaan-pertanyaan ini layak dijawab oleh para pemangku kepentingan di tanah air.



