Tim Penyelamat China Ledakkan Batu Raksasa untuk Jangkau 34 Korban Longsor
Baca dalam 60 detik
- Operasi peledakan batu besar dilakukan tim penyelamat di China barat daya untuk mengakses 34 orang yang hilang akibat longsor saat hujan deras.
- Bencana di Kabupaten Penghui menewaskan delapan orang dan memaksa evakuasi lebih dari 1.100 warga, dengan kekhawatiran bencana susulan.
- Presiden Xi Jinping memerintahkan penyelidikan cepat dan pencarian ilmiah, sementara otoritas waspadai risiko longsor baru akibat konstruksi intensif.

Tim penyelamat di China barat daya meledakkan bongkahan batu raksasa yang menghalangi akses menuju 34 orang yang dilaporkan hilang selama tiga hari pascalongsor akibat hujan deras di kawasan wisata alam terkenal. Operasi yang disiarkan langsung oleh televisi nasional CCTV pada Minggu (21/7) itu menandai fase baru pencarian yang disebut sebagai 'penyelamatan dalam' meski belum ada rincian lebih lanjut.
Longsor yang terjadi Jumat lalu di Kabupaten Penghui, sekitar 270 kilometer dari Chongqing, menewaskan delapan orang. Lebih dari 1.100 warga dievakuasi dari daerah yang dihuni sekitar 500.000 jiwa, di mana banyak permukiman berada di lereng curam di sepanjang Sungai Wujian. Rekaman video dan foto menunjukkan sebagian tebing yang runtuh mengalir ke sungai, memutus jalan utama kota kecil di lereng bukit tersebut.
Presiden Xi Jinping menyerukan operasi pencarian dan penyelamatan yang ilmiah serta investigasi cepat terhadap penyebab longsor. Pernyataan ini disampaikan melalui media resmi, menekankan prioritas pemerintah dalam menangani bencana alam di tengah musim hujan yang ekstrem. Badan meteorologi memperkirakan hujan lebat hingga deras masih akan melanda beberapa provinsi dalam beberapa hari ke depan.
Otoritas setempat telah mengirim tim untuk menyelidiki bahaya geologis tersembunyi dan memantau risiko bencana sekunder, demikian laporan kantor berita Xinhua. Kekhawatiran utama adalah potensi longsor susulan akibat tanah yang jenuh air dan aktivitas konstruksi yang intensif di daerah rawan. Pemerintah daerah diminta memperkuat pengamanan di zona berisiko tinggi, terutama yang memiliki air tanah melimpah dan pembangunan padat.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah perbukitan dan pegunungan terhadap longsor saat musim hujan. Dengan topografi serupa di banyak daerah seperti Jawa Barat, Sumatera, dan Sulawesi, pengalaman China dalam penanganan darurat dan mitigasi bencana geologis dapat menjadi pelajaran. Penggunaan teknik peledakan terkendali untuk membuka akses, misalnya, jarang diterapkan di Indonesia yang lebih mengandalkan alat berat. Selain itu, sistem peringatan dini dan evakuasi massal yang melibatkan ribuan orang dalam waktu singkat menunjukkan pentingnya koordinasi lintas sektor.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah China mampu mempercepat pencarian 34 korban sebelum hujan deras kembali mengguyur, dan bagaimana langkah rehabilitasi kawasan yang rusak parah. Sementara itu, otoritas setempat terus memantau pergerakan tanah dan debit sungai untuk mengantisipasi bencana susulan yang bisa memperparah situasi.



