Bangkai Kapal Perang Nagara Ditemukan: Rekaman Bawah Laut Ungkap Tragedi Perang Dunia II
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelam berhasil merekam bangkai kapal penjelajah ringan Nagara di kedalaman 90-100 meter di lepas pantai Amakusa, Jepang, 82 tahun setelah tenggelam.
- Kapal yang ditenggelamkan torpedo kapal selam AS pada 1944 itu menewaskan 348 awak, namun peristiwa tersebut sempat dirahasiakan karena situasi perang yang memburuk.
- Rekaman video diharapkan menjadi saksi bisu untuk mewariskan pesan perdamaian dan mengenang perjuangan warga lokal yang diam-diam merawat memori para korban.

Delapan dekade lebih setelah tenggelam di perairan selatan Jepang, bangkai kapal penjelajah ringan Nagara milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang akhirnya berhasil diabadikan dalam rekaman bawah laut. Tim penyelam yang dipimpin oleh penjelajah bawah air Yoshitaka Isaji merekam struktur kapal yang berada di kedalaman 90 hingga 100 meter di lepas pantai Distrik Ushibuka, Kota Amakusa, Prefektur Kumamoto, pada 21 Juli lalu. Momen ini menjadi penanda penting bagi keluarga korban dan masyarakat setempat yang selama puluhan tahun merawat memori tragedi tersebut.
Nagara ditenggelamkan pada 7 Agustus 1944, setelah dihantam torpedo dari kapal selam Amerika Serikat sekitar 10 kilometer di barat Ushibuka. Serangan itu menyebabkan kerusakan parah dan menewaskan 348 awak kapal. Namun, karena situasi perang yang kian memburuk, insiden tersebut dirahasiakan oleh militer Jepang. Warga setempat bahkan dilaporkan mendapat perintah untuk bungkam. Akibatnya, selama bertahun-tahun, banyak keluarga korban tidak mengetahui nasib pasti sanak saudara mereka.
Setelah perang usai, kenangan tentang Nagara perlahan memudar. Namun, seorang perempuan bernama Tsuru Sasaki, yang mengenal beberapa awak kapal, diam-diam terus berduka. Sejak 1953, ia secara rutin menyewa perahu menuju lokasi tenggelam untuk menggelar upacara peringatan sendirian. Pada 1970, ia membeli sebidang tanah yang dinamai "Irei no Oka" (Bukit Peringatan) dan mendirikan tugu peringatan di sana. Perjuangan sunyi Sasaki menjadi fondasi bagi gerakan peringatan yang kemudian diikuti oleh puluhan keluarga korban.
Seiring waktu, berita tentang tugu peringatan itu menyebar melalui laporan media. Keluarga korban yang sebelumnya diberi tahu bahwa awak kapal tewas di Pasifik tengah mulai berdatangan ke Ushibuka. Pada 1977, sekitar 150 kerabat berkumpul dalam upacara peringatan bersama. Soichi Fukumoto, 71 tahun, yang telah terlibat dalam kegiatan peringatan selama puluhan tahun, menuturkan bahwa banyak keluarga terkejut mengetahui lokasi sebenarnya. "Mereka berdoa, 'Kamu sedekat ini? Maafkan kami yang baru tahu,'" kenangnya.
Setelah Sasaki wafat di usia 88 tahun, Dewan Kesejahteraan Sosial Kota Amakusa cabang Ushibuka melanjutkan wasiatnya dan tetap menggelar upacara peringatan setiap 7 Agustus. Rekaman terbaru dari bangkai Nagara dianggap sebagai pencapaian emosional bagi mereka yang selama ini berjuang melestarikan memori. Fukumoto, yang menyaksikan rekaman itu, berkata seolah melaporkan kepada Sasaki, "Tsuru berpesan, 'Aku percaya padamu untuk melanjutkan ini.' Aku pikir Tsuru pasti lega sekarang."
Bagi Indonesia, kisah Nagara mengingatkan pada banyak bangkai kapal perang dari era Perang Dunia II yang berserakan di perairan Nusantara, seperti kapal selam atau kapal perang Belanda dan Jepang. Rekaman bawah laut semacam ini tidak hanya bernilai arkeologis, tetapi juga menjadi pengingat akan dampak perang yang melampaui batas negara. Pertanyaannya, mampukah teknologi bawah laut modern mengungkap lebih banyak lagi kisah-kisah yang terkubur di dasar laut, sekaligus menyampaikan pesan perdamaian lintas generasi?



