Trump Ancam Iran: Setiap Tentara AS Tewas, Bayar Berkali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras kepada Iran melalui Truth Social, menyatakan akan membalas setiap kematian tentara AS dengan serangan berlipat ganda.
- Konflik di Timur Tengah meningkat setelah gencatan senjata April dan Juni runtuh, dengan Iran menyebut situasi kini sebagai perang skala penuh dan Houthi mengancam blokade pelabuhan Saudi.
- Eskalasi ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz dan Laut Merah menjadi jalur kritis yang terancam blokade.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan bahwa setiap tentara AS yang tewas akibat serangan Teheran akan dibayar "berkali-kali lipat". Peringatan ini disampaikan melalui platform Truth Social pada Senin (20/7), menyusul tewasnya tiga prajurit AS dalam serangan akhir pekan lalu, yang menjadikan total korban jiwa Amerika di konflik Timur Tengah mencapai 17 orang.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa arahan tersebut telah diteruskan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Daniel Caine, dan seluruh pimpinan militer. Pentagon melaporkan hampir 100 personel AS mengalami luka-luka sejak 7 Juli, sebagian besar gegar otak ringan. Sementara itu, Komando Pusat AS mengumumkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada hari yang sama, yang ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal dagang di Selat Hormuz.
Di pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa konflik dengan AS telah memasuki fase baru. "Realitasnya, hari ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ujarnya. Korps Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang sasaran di Bahrain, Yordania, dan Suriah dengan drone dan rudal. Yordania mengonfirmasi berhasil menembak jatuh tiga rudal Iran tanpa menimbulkan korban, sementara Kuwait dan Bahrain juga melaporkan serangan serupa.
Ancaman baru muncul dari sekutu Iran, kelompok Houthi Yaman, yang menyatakan akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Saudi. Langkah ini berpotensi mengancam kemampuan Riyadh untuk mengekspor minyak melalui jalur alternatif selain Selat Hormuz, yaitu Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Saudi mengutuk keras ancaman tersebut dan menyebut Houthi sebagai "milisi teroris". Sebelumnya, Saudi dan Houthi telah saling serang pekan lalu untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, mengancam gencatan senjata 2022. Namun, Houthi sebagian besar tidak terlibat sejak serangan Israel-AS ke Iran pada akhir Februari.
Eskalasi ini terjadi setelah gencatan senjata April dan kerangka kesepakatan Juni runtuh. Iran kembali memberlakukan blokade Selat Hormuz, sementara AS membalas dengan memblokade pelabuhan Iran. Harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi dalam sebulan pada Senin, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan. Para analis energi memperingatkan bahwa jika Houthi benar-benar menyerang kapal di Laut Merah dan Teluk Aden—seperti yang mereka lakukan selama perang Gaza—pasokan minyak global bisa semakin tertekan. Houthi sendiri belum merinci mekanisme blokade yang akan diterapkan.
Di tengah ketegangan, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa awak kapal meninggalkan sebuah kapal yang terbakar di Selat Hormuz akibat serangan. Garda Revolusi sebelumnya mengklaim dua kapal tanker minyak yang mencoba melintasi selat tersebut "meledak dan terhenti". UKMTO kemudian melaporkan kapal lain terkena serangan di dekat Selat Hormuz, di lepas pantai Uni Emirat Arab, dengan awak dilaporkan selamat.
Menariknya, di tengah pertempuran sengit, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa pertukaran diplomatik dengan AS melalui mediator masih berlangsung. "Gagasan telah disampaikan kepada kami oleh mediator tertentu," ujarnya. Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, dijadwalkan mengunjungi Pakistan—yang kerap menjadi mediator—pada Senin, meski alasan kunjungan belum dikonfirmasi. Pertanyaan besarnya, apakah diplomasi mampu meredakan ketegangan yang sudah mencapai titik didih ini, atau justru konflik akan semakin meluas dengan dampak global yang lebih parah?



