Sonam Wangchuk Akhiri Mogok Makan 26 Hari: Desakan Reformasi Pendidikan India Berujung Negosiasi
Baca dalam 60 detik
- Aktivis India Sonam Wangchuk menghentikan aksi mogok makan setelah 26 hari, menyusul negosiasi dengan pemerintah untuk mencegah potensi kekerasan.
- Aksi ini mendukung Partai Cockroach Janta yang menuntut reformasi pendidikan dan pengunduran diri menteri pendidikan India.
- Kasus ini menyoroti ketegangan antara aktivisme mahasiswa dan kebijakan pendidikan di India, relevan bagi Indonesia yang juga menghadapi isu serupa.

Aktivis pendidikan asal India, Sonam Wangchuk, akhirnya mengakhiri aksi mogok makan yang telah berlangsung selama 26 hari. Langkah ini diambil setelah melalui negosiasi panjang dengan pihak berwenang, sekaligus untuk meredakan potensi kekerasan yang mengancam stabilitas negara.
Wangchuk, yang akrab disapa "Sonam Sir", memulai aksinya sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan mahasiswa yang tergabung dalam Cockroach Janta Party (CJP). Kelompok ini menuntut reformasi menyeluruh dalam sistem pendidikan India, termasuk desakan agar Menteri Pendidikan mundur dari jabatannya. Dalam unggahan di media sosial X, Wangchuk menyatakan bahwa keputusan menghentikan mogok makan diambil setelah berbagai kondisi disepakati dalam perundingan.
Selama aksinya, Wangchuk mengalami penurunan kondisi fisik yang signifikan. Ia kehilangan 11 kilogram berat badan, namun tetap menyatakan dirinya "masih hidup". Pada pekan lalu, ia sempat dipindahkan secara paksa dari lokasi protes di Delhi dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Insiden ini memicu perhatian publik dan meningkatkan tekanan pada pemerintah India untuk merespons tuntutan para pengunjuk rasa.
Gerakan yang dipimpin CJP sendiri merupakan representasi dari keresahan generasi muda India terhadap sistem pendidikan yang dinilai ketinggalan zaman dan tidak mampu menjawab tantangan lapangan kerja. Tuntutan mereka mencakup perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, serta transparansi dalam kebijakan seleksi nasional. Aksi Wangchuk, yang dikenal sebagai tokoh pendidikan dari wilayah Ladakh, memberikan legitimasi moral yang kuat bagi perjuangan mahasiswa tersebut.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Meskipun konteks politik dan sosial berbeda, isu reformasi pendidikan juga menjadi perdebatan hangat di dalam negeri. Tuntutan serupa kerap muncul dari kalangan mahasiswa dan aktivis pendidikan Indonesia, terutama terkait relevansi kurikulum, kesejahteraan tenaga pengajar, dan akses pendidikan yang merata. Pemerintah Indonesia dapat memetik pelajaran dari dinamika negosiasi di India, di mana dialog terbuka dan kesediaan mendengarkan aspirasi menjadi kunci meredakan ketegangan.
Menurut pengamat pendidikan India, Dr. Rajesh Kumar, aksi Wangchuk berhasil memaksa pemerintah untuk duduk bersama dan membahas tuntutan reformasi. "Ini adalah kemenangan bagi gerakan sipil, meskipun masih panjang jalan menuju perubahan nyata," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tanpa tindak lanjut konkret, protes serupa bisa kembali meletus.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah India akan benar-benar merealisasikan janji-janji yang diberikan selama negosiasi. Sementara itu, Wangchuk dan CJP berjanji akan terus mengawal proses ini. Di Indonesia, publik menanti apakah gelombang protes serupa akan mendorong percepatan reformasi pendidikan yang selama ini dinilai berjalan lamban.



