PLUS Alokasikan 90% Anggaran ke Vendor Bumiputera: Cetak Pertumbuhan 30% per Tahun
Baca dalam 60 detik
- PLUS Malaysia mengalokasikan 90% anggaran pengadaan 2023-2025 untuk usaha Bumiputera, mendorong pertumbuhan vendor lokal.
- Program VDP PLUS telah mendukung 22 vendor, dengan sembilan lulusan yang mencatat pertumbuhan pendapatan signifikan dan ekspansi pasar.
- Target PLUS menggandakan jumlah vendor peserta menjadi 44 pada 2028, memperkuat ekosistem infrastruktur nasional.

PLUS Malaysia Bhd, pengelola jalan tol terbesar di Malaysia, mengalokasikan 90% anggaran pengadaannya selama tiga tahun (2023-2025) untuk usaha Bumiputera, sebuah langkah strategis yang tidak hanya memperkuat rantai pasok tetapi juga melahirkan vendor teknologi kelas dunia. Keputusan ini menjadi katalis pertumbuhan bagi perusahaan-perusahaan lokal yang sebelumnya berjuang melawan pemain mapan.
Salah satu penerima manfaat adalah D'Amante Malaysia Sdn Bhd, perusahaan rekayasa asal Semenyih yang dirintis pada 1999. Di bawah kepemimpinan Mohd Zulhariz Mohammad Zulkifli, putra pendiri, perusahaan yang semula hanya kontraktor tradisional bertransformasi menjadi pengembang teknologi digital generasi berikutnya. Sejak bergabung dengan Program Pengembangan Vendor (VDP) PLUS pada 2022, D'Amante berhasil meningkatkan kapasitas operasional, memperluas keahlian teknis, dan kini mampu mengerjakan proyek di sektor perkeretaapian, energi hijau, serta dirgantara.
Kisah serupa datang dari Focus Instrument (M) Sdn Bhd, perusahaan ICT yang berdiri pada 2003. Direktur Utamanya, Azizi Harun, mengakui bahwa program VDP menjadi titik balik. Dalam empat tahun, Focus Instrument mengamankan 390 kontrak dari berbagai instansi pemerintah dan swasta, mendorong pertumbuhan pendapatan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 30%, serta memperluas tenaga kerja spesialis hingga 25%. โKami belajar bahwa membangun nilai jangka panjang jauh lebih penting daripada mengejar kesuksesan instan,โ ujar Azizi.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan penuh UEM Group, induk PLUS, yang menjadikan pengembangan vendor Bumiputera sebagai prioritas. Manajer Pelaksana UEM Group, Datuk Amran Hafiz Affifudin, menegaskan bahwa investasi pada kapasitas vendor hari ini akan melahirkan juara lokal yang mampu bersaing di kancah regional. โKami memandang inisiatif ini sebagai alat strategis berkelanjutan untuk membangun jaringan kontraktor dan mitra teknologi yang siap menghadapi masa depan,โ katanya.
Manajer Pelaksana PLUS, Datuk Nik Airina Nik Jaffar, menambahkan bahwa VDP tidak hanya memperluas basis pelanggan UKM, tetapi juga membantu mereka berevolusi menjadi penyedia solusi khusus. โKami bertujuan menggandakan jumlah vendor peserta pada 2028, memperkuat kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,โ ujarnya. Langkah ini sejalan dengan Rencana Transformasi Ekonomi Bumiputera 2035 (PuTERA35) yang digagas pemerintah.
Bagi Indonesia, model pengembangan vendor Bumiputera Malaysia ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan struktur ekonomi yang mirip, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa untuk memperkuat usaha lokal di sektor infrastruktur dan teknologi. Pertanyaan yang muncul: mampukah BUMN dan perusahaan swasta Indonesia meniru kesuksesan PLUS dalam menciptakan rantai pasok yang inklusif dan berdaya saing global?



