100 Tahun Panas Bumi Indonesia: PGE Pacu Ekspansi Geotermal di Luar Listrik
Baca dalam 60 detik
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menargetkan pengembangan panas bumi hingga ke sektor non-listrik, seperti hidrogen hijau dan agroindustri, untuk memaksimalkan potensi energi bersih nasional.
- Momentum 100 tahun panas bumi Indonesia pada 2026 menjadi pijakan strategis PGE dalam memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
- Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang yang beroperasi sejak 1926 menjadi bukti nyata bahwa geotermal dapat diandalkan sebagai beban dasar listrik nasional yang stabil dan berkelanjutan.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berkomitmen mempercepat pengembangan energi panas bumi di Indonesia, tidak hanya sebagai sumber listrik, tetapi juga merambah ke sektor di luar kelistrikan atau beyond electricity. Langkah ini diambil seiring momentum 100 tahun eksplorasi panas bumi di Indonesia pada 2026, yang dimulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang di Garut, Jawa Barat, yang hingga kini masih beroperasi.
Direktur Eksplorasi & Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya memperkuat posisi panas bumi sebagai energi bersih yang berkelanjutan dan stabil. Menurutnya, PLTP mampu menjadi beban dasar (base load) pasokan listrik nasional, sehingga dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang kian terbatas dan berdampak pada emisi karbon.
Dalam strategi pengembangan ke depan, PGE tidak hanya fokus pada pembangkitan listrik, tetapi juga mengeksplorasi pemanfaatan panas bumi untuk sektor lain, seperti produksi hidrogen hijau, pengeringan hasil pertanian, dan pariwisata kesehatan. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 dan netral karbon pada 2060.
Konteks Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi memiliki urgensi tinggi. Dengan potensi sumber daya panas bumi terbesar kedua di dunia, Indonesia masih memanfaatkan kurang dari 10 persen dari total kapasitas yang ada. PGE sebagai pemain utama dituntut untuk mengakselerasi eksplorasi dan produksi, terutama di wilayah timur Indonesia yang kaya akan sumber panas bumi namun minim infrastruktur.
Menurut analis energi dari Universitas Indonesia, pengembangan beyond electricity dapat menjadi terobosan untuk meningkatkan nilai tambah panas bumi. "Dengan diversifikasi pemanfaatan, risiko investasi dapat ditekan dan ekonomi lokal bisa terdorong," ujarnya. Namun, tantangan seperti biaya pengeboran yang tinggi dan regulasi perizinan masih menjadi hambatan yang perlu diatasi.
Ke depan, PGE berencana menggandeng mitra strategis, baik domestik maupun internasional, untuk mempercepat pengembangan proyek. Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan momentum 100 tahun ini untuk benar-benar lepas dari ketergantungan energi fosil dan menjadi pemimpin global dalam energi panas bumi?



