Kematian Pengusaha Maroko di Tangan Polisi Italia Picu Gelombang Protes
Baca dalam 60 detik
- Abderrahim Fakir, warga Maroko yang menjalankan bisnis pindahan di Bologna, tewas saat dibekuk polisi pada Minggu (19/7) setelah video aksi penggerebekan viral.
- Ratusan warga turun ke jalan menuntut keadilan, sementara pemerintah koalisi membela aparat dan oposisi mendesak transparansi investigasi.
- Insiden ini mengingatkan pada kasus George Floyd di AS dan memicu perdebatan soal penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat di Italia.

Kematian seorang pengusaha keturunan Maroko di tangan polisi di Bologna, Italia utara, memicu demonstrasi massa dan sorotan tajam dari berbagai kalangan politik. Abderrahim Fakir (40), pemilik usaha jasa pindahan dan kebersihan, tewas pada Minggu (19/7) setelah petugas kepolisian berusaha membekuknya di kawasan Pilastro. Rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Fakir dalam posisi tengkurap dengan dua polisi menekannya, sementara ia berulang kali meminta tolong dan kesulitan bernapas hingga akhirnya diam.
Menurut laporan media Italia, polisi dipanggil untuk menangani seorang pria yang bertindak agresif dan merusak kendaraan. Suhu saat itu mencapai 35 derajat Celsius. Petugas sempat mencoba menenangkan Fakir sebelum menggunakan semprotan merica dan menahannya untuk diborgol. Namun, kondisi Fakir memburuk dengan cepat. Tim medis yang dipanggil tak bisa menyelamatkannya. Jasad Fakir kemudian dibawa ke rumah sakit setempat untuk autopsi.
Keluarga korban menuntut keadilan. "Mereka membunuh saudaraku dengan darah dingin. Saya ingin keadilan," ujar Khadija, saudara perempuan Fakir, di hadapan wartawan. Ratusan warga Pilastro langsung turun ke jalan pada hari yang sama, meneriakkan slogan anti-polisi dan mengangkat tinju sambil berlutut—gestur yang identik dengan gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat pasca kematian George Floyd pada 2020.
Protes tidak hanya terjadi di Pilastro. Wali Kota Bologna yang berhaluan kiri-tengah, Matteo Lepore, bersama serikat buruh Cgil dan organisasi sayap kiri lainnya, mendukung aksi unjuk rasa di pusat kota pada Senin (20/7). Di sisi lain, partai sayap kanan Liga yang menjadi bagian dari koalisi pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni, menyerukan investigasi menyeluruh namun membela polisi. "Petugas hanya menjalankan tugas atas permintaan warga yang sudah jengah," demikian pernyataan resmi Liga.
Jaksa Bologna dan Kementerian Dalam Negeri Italia belum memberikan komentar. Sementara itu, kepolisian Bologna menyatakan akan menyerahkan rekaman bodycam dari petugas yang terlibat kepada penyidik. Rekaman video amatir yang sudah beredar menjadi bukti kunci dalam kasus ini, memperlihatkan bagaimana Fakir berjuang untuk bernapas sebelum akhirnya tak bergerak.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap prosedur kepolisian, terutama dalam penggunaan kekuatan. Di Tanah Air, kasus serupa seperti kematian Afif Maulana di Polres Solok Selatan pada 2023 juga memicu gelombang protes dan tuntutan reformasi. Meskipun sistem hukum dan budaya berbeda, isu akuntabilitas aparat dan hak asasi manusia tetap relevan. Bagaimana Italia menangani kasus ini—apakah transparan atau justru melindungi oknum—akan menjadi cermin bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.



