Pemerintah Rombak Total Kompleks GBK: Ikon Baru Jakarta dan Target Gelaran Olahraga Dunia
Baca dalam 60 detik
- Mensesneg Prasetyo Hadi mengumumkan rencana desain ulang Kompleks GBK yang mencakup area olahraga, komersial, dan integrasi dengan Jakarta Convention Center.
- Pemerintah menargetkan GBK mampu menyelenggarakan event olahraga internasional seperti akuatik dan tenis, dengan syarat standar global yang ketat.
- Rencana ini memicu pencabutan kontrak lama, penjajakan investor asing dan lokal, serta menjadi bagian dari transformasi kawasan strategis Jakarta.

Pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan niat untuk mendesain ulang secara menyeluruh Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) di Senayan, Jakarta, dengan target menjadikannya pusat penyelenggaraan event olahraga kelas dunia dan ikon baru ibu kota.
Dalam pernyataannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7), Prasetyo mengungkapkan bahwa renovasi tidak hanya terbatas pada sarana olahraga, melainkan juga mencakup pengembangan fasilitas komersial dan hotel. Kawasan ini direncanakan terintegrasi dengan Jakarta Convention Center (JCC) untuk menciptakan satu kawasan modern yang multifungsi. โKita ingin punya yang lebih modern lagi, termasuk sarana olahraga,โ ujarnya.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing Jakarta sebagai tuan rumah ajang internasional. Prasetyo mencontohkan cabang olahraga akuatik dan tenis sebagai target potensial, yang membutuhkan infrastruktur berstandar Federasi Internasional. Pemerintah juga telah mencabut sejumlah kontrak kerja yang belum terealisasi sebagai bagian dari penataan ulang kawasan.
Menurut Prasetyo, desain baru masih terus disempurnakan, sementara pemerintah aktif menjajaki calon investor potensial, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia menyebut Danantara dan InJourney sebagai kandidat utama dari sektor BUMN. โInvestor dari luar ada, dari dalam negeri ada,โ katanya, menegaskan bahwa keterlibatan swasta dan BUMN akan menjadi kunci pendanaan proyek ini.
Kawasan GBK yang berada di Kelurahan Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, memiliki nilai historis dan strategis. Dibangun atas inisiatif Presiden Sukarno, kompleks ini menjadi simbol kebangkitan bangsa. Namun, seiring waktu, sejumlah area komersial dan hotel di dalamnya dikuasai pihak swasta. Pengambilalihan Hotel Sultan baru-baru ini menjadi sinyal bahwa pemerintah serius mengembalikan kendali atas aset vital tersebut.
Analis tata kota menilai bahwa integrasi GBK dengan JCC dan penambahan hotel akan meningkatkan daya tarik kawasan untuk MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) dan pariwisata olahraga. Namun, tantangan utama terletak pada pembiayaan dan penyelesaian sengketa lahan yang mungkin muncul. Pemerintah perlu memastikan transparansi dalam proses tender dan keterlibatan publik agar proyek ini tidak hanya menguntungkan segelintir pihak.
Ke depan, publik menanti apakah desain ulang GBK benar-benar mampu mengubah wajah Jakarta dan membawa Indonesia ke panggung olahraga dunia, atau justru menjadi proyek mercusuar yang terbengkalai. Pertanyaan kuncinya: akankah target ambisius ini terwujud tanpa mengorbankan fungsi publik dan nilai sejarah kawasan?



