Bebatuan Dasar Cisadane Terlihat, Krisis Air Bersih di Tangerang Mengancam
Baca dalam 60 detik
- Permukaan Sungai Cisadane di Tangerang turun drastis hingga memperlihatkan batuan dasar yang kering.
- Fenomena ini menandakan ancaman krisis air bersih bagi warga sekitar yang bergantung pada aliran sungai.
- Pemerintah daerah perlu segera mengantisipasi dampak kekeringan dengan langkah konservasi dan distribusi air.

Debit air Sungai Cisadane di wilayah Tangerang, Banten, menyusut drastis hingga memperlihatkan bebatuan dasar yang kering tanpa genangan air. Kondisi ini menjadi alarm dini krisis air bersih yang mengintai ribuan warga yang selama ini bergantung pada aliran sungai tersebut.
Fenomena penyusutan sungai sepanjang 138 kilometer itu terlihat jelas di beberapa titik, terutama di kawasan perkotaan Tangerang. Bebatuan yang biasanya terendam kini menonjol ke permukaan, menandakan volume air jauh di bawah normal. Padahal, Sungai Cisadane merupakan salah satu sumber utama air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Tangerang dan sekitarnya.
Kekeringan yang melanda hulu sungai akibat musim kemarau panjang menjadi penyebab utama. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah ini selama tiga bulan terakhir berada 60 persen di bawah rata-rata tahunan. Akibatnya, pasokan air ke hilir berkurang signifikan, mengancam kebutuhan domestik dan irigasi pertanian.
Dampak langsung sudah dirasakan warga di bantaran sungai. Mereka mengeluhkan kualitas air yang memburuk dan volume yang tidak mencukupi untuk mandi, mencuci, dan memasak. Sebagian warga terpaksa membeli air bersih dari pengecer dengan harga dua kali lipat dari tarif normal PDAM. โKami khawatir jika kemarau terus berlanjut, sumber air akan benar-benar habis,โ ujar seorang warga setempat kepada wartawan.
Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pekerjaan Umum telah menyiagakan 10 tangki air bersih untuk didistribusikan ke wilayah terdampak. Namun, langkah ini dinilai belum cukup untuk mengatasi krisis yang lebih luas. Pengamat tata kelola air dari Universitas Indonesia, Dr. Agus Maryono, menilai bahwa penyusutan Cisadane adalah indikasi kegagalan konservasi daerah aliran sungai (DAS). โUrbanisasi yang masif di hulu dan hilir mengurangi daerah resapan air. Ini bukan hanya soal kemarau, tapi juga tata ruang yang tidak ramah lingkungan,โ jelasnya.
Krisis air di Cisadane juga berdampak pada sektor ekonomi. Petani di sekitar sungai mengeluhkan gagal panen karena irigasi tidak berfungsi optimal. Sementara itu, industri kecil yang menggunakan air sungai untuk produksi terpaksa mengurangi jam operasi. Jika situasi tidak segera membaik, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai miliaran rupiah per bulan.
Ke depan, pemerintah daerah perlu mempercepat program normalisasi sungai dan pembangunan waduk retensi di hulu. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang penghematan air dan pemanfaatan air hujan harus digencarkan. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah tersebut dapat diimplementasikan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya pada Agustus mendatang?



