JP Morgan Balik Arah: Target Harga BBRI Naik ke Rp3.400, Saham Bank Mikro Mulai Menarik
Baca dalam 60 detik
- JP Morgan merevisi rekomendasi BBRI dari Underweight ke Overweight, dengan target harga baru Rp3.400, didorong perbaikan kualitas aset mikro.
- Valuasi BBRI di level 7,3x PE dianggap terlalu murah, lebih rendah dari BMRI dan BBNI, menandakan sentimen negatif telah terdiskon penuh.
- Program pemerintah seperti makan bergizi gratis dan subsidi kredit diperkirakan memperkuat arus kas debitur mikro, menopang pertumbuhan dana murah.

Setelah sekian lama bersikap pesimistis, JP Morgan akhirnya berbalik arah terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Dalam riset terbaru bertajuk "Micro trumps macro; tactical upgrade to OW" yang dirilis pada 19 Juli 2026, bank investasi asal Amerika Serikat itu menaikkan rekomendasi saham BBRI menjadi Overweight dari sebelumnya Underweight, sekaligus mengerek target harga dari Rp2.730 menjadi Rp3.400. Langkah ini mencerminkan keyakinan bahwa risiko kredit di segmen mikro mulai mereda dan valuasi saham sudah terlalu murah untuk dilewatkan.
Perubahan sikap JP Morgan bukan tanpa alasan. Risiko kualitas aset di portofolio kredit mikro, yang selama ini menjadi momok bagi investor, dinilai mulai menurun. Selain itu, tekanan dari kredit Agrinas juga dipandang lebih terkendali, sementara potensi subsidi 10% untuk pinjaman PNM berpeluang meredam tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM). Seiring membaiknya prospek tersebut, JP Morgan menaikkan proyeksi laba per saham (EPS) BBRI untuk periode 2026-2028 sebesar 3-6%, terutama karena ekspektasi biaya pencadangan kredit (credit cost) yang lebih rendah.
Dari sisi valuasi, JP Morgan menilai BBRI kini berada di level yang sangat menarik. Dengan rasio price to earnings (PE) sekitar 7,3 kali dan price to book value (PBV) 1,31 kali, saham BBRI diperdagangkan pada diskon signifikan terhadap rata-rata historisnya. Bahkan, di antara bank-bank BUMN besar, valuasi BBRI dinilai lebih murah dibandingkan Bank Mandiri (BMRI) maupun BNI (BBNI). Menurut riset JP Morgan, kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar sentimen negatif telah tercermin pada harga saham, sehingga risiko penurunan lebih lanjut terbatas dan peluang reli jangka pendek terbuka lebar.
Optimisme itu juga ditopang oleh perbaikan operasional di bisnis mikro. BBRI berhasil menurunkan jumlah debitur mikro yang ditangani setiap mantri dari 528 pada 2022 menjadi 456, sehingga pengawasan dan penagihan kredit menjadi lebih efektif. Perseroan bahkan menargetkan rasio tersebut turun mendekati 400 debitur per mantri. Efisiensi ini diyakini mampu menekan biaya operasional dan memperbaiki kualitas kredit secara keseluruhan. Selain itu, berbagai program pemerintah seperti program makan bergizi gratis, pembentukan koperasi, serta penyaluran subsidi mulai menunjukkan dampak positif terhadap arus kas masyarakat lapisan bawah. JP Morgan menilai hal ini dapat menopang kualitas kredit mikro sekaligus mendorong pertumbuhan dana murah (deposit mikro) BBRI.
Meski demikian, JP Morgan tetap mengingatkan adanya tekanan terhadap NIM akibat kenaikan cost of fund dan penyesuaian imbal hasil pinjaman PNM. Namun, menurut mereka, risiko tersebut sebagian besar sudah tercermin dalam harga saham sehingga potensi kenaikan BBRI dalam jangka pendek masih terbuka. Bagi investor Indonesia, perubahan sikap JP Morgan ini menjadi sinyal bahwa fundamental BBRI mulai membaik, meskipun tantangan dari sisi margin masih perlu dicermati. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah momentum ini akan berlanjut seiring dengan pemulihan ekonomi domestik dan efektivitas program pemerintah dalam mendorong sektor mikro.



