Sonam Wangchuk: Aktivis Pendidikan India yang Mogok Makan hingga Kritis
Baca dalam 60 detik
- Aktivis dan pendidik Sonam Wangchuk menjalani mogok makan sejak 28 Juni untuk mendukung gerakan reformasi pendidikan yang digerakkan oleh kelompok Cockroach Janta Party.
- Kondisi kesehatannya memburuk drastis setelah kehilangan lebih dari 9 kg, dan ia baru bersedia menghentikan aksinya jika pemerintah bertanggung jawab atas kegagalan sistem pendidikan.
- Wangchuk dikenal sebagai inspirasi film Bollywood 'Three Idiots' dan penerima Ramon Magsaysay Award, serta memiliki rekam jejak panjang dalam memperjuangkan pendidikan dan ekologi Ladakh.

Sonam Wangchuk, aktivis pendidikan asal Ladakh yang dikenal luas di India, kini berada dalam kondisi kritis setelah menjalani mogok makan selama lebih dari tiga pekan. Pria 59 tahun itu memulai aksinya pada 28 Juni di Delhi sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan satir Cockroach Janta Party (CJP) yang menuntut reformasi sistem pendidikan. Hingga 18 Juli, polisi terpaksa membawanya ke rumah sakit secara paksa karena kondisinya yang terus memburuk.
Wangchuk hanya mengonsumsi air garam selama mogok makan, menyebabkan berat badannya turun lebih dari sembilan kilogram. Aksi ini memicu kekhawatiran luas dari berbagai kalangan, termasuk politisi oposisi, artis Bollywood, dan musisi yang mendesaknya menghentikan aksi. Namun, Wangchuk bersikukuh akan berhenti hanya jika pemerintah mengakui kegagalan dalam sistem pendidikan, atau jika pimpinan CJP diizinkan masuk parlemen untuk menyampaikan tuntutan mereka.
Gerakan CJP lahir setelah seorang hakim agung India menyebut anak muda sebagai "kecoak" dalam sebuah pernyataan. Nama tersebut kemudian diadopsi sebagai bentuk protes terhadap berbagai kontroversi, termasuk kebocoran soal ujian yang marak terjadi. Aksi Wangchuk dianggap sebagai salah satu bentuk perlawanan terbesar terhadap pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi yang berkuasa sejak 2014.
Wangchuk bukan nama asing di India. Ia adalah penerima Ramon Magsaysay Award 2018—sering disebut Nobel Asia—dan menjadi inspirasi tokoh utama dalam film Bollywood superhit Three Idiots (2009). Ia juga pernah tampil sebagai bintang tamu di acara Kaun Banega Crorepati versi India. Namun, di balik popularitasnya, Wangchuk adalah seorang insinyur dan inovator yang telah lama memperjuangkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Pengalaman pahit masa kecilnya di Srinagar, di mana ia diejek karena tidak bisa berbahasa Hindi atau Inggris, membentuk pandangannya tentang pendidikan. Pada 1980-an, ia memprotes penggunaan buku teks berbahasa Inggris dan Urdu di Ladakh yang mayoritas penduduknya berbahasa Ladakh. "Buku-buku itu penuh dengan contoh tentang kapal, lautan, pohon kelapa, dan hujan muson—hal-hal asing yang hanya membingungkan anak-anak Ladakh," tulisnya di situs sekolah yang ia dirikan.
Selain pendidikan, Wangchuk juga vokal dalam isu lingkungan dan otonomi Ladakh. Sebelum mogok makan saat ini, ia dan pendukungnya berjalan kaki ratusan kilometer dari Ladakh ke Delhi untuk menuntut perlindungan konstitusional bagi wilayah tersebut. Mereka khawatir pembangunan infrastruktur besar-besaran di perbatasan—seperti jalan raya, proyek listrik, dan fasilitas militer—akan merusak ekologi Himalaya yang rapuh. "Kami tidak menentang pembangunan, tapi kami ingin pembangunan berkelanjutan," ujarnya.
Ladakh memiliki posisi strategis karena berbatasan dengan China dan Pakistan. Pemerintah pusat memang mempercepat pembangunan di kawasan perbatasan, namun Wangchuk menilai hal itu dilakukan tanpa konsultasi dengan perwakilan lokal. Ia menegaskan bahwa Ladakh tidak bisa mengikuti model pembangunan negara bagian India lainnya karena kondisi ekologinya yang unik.
Di bidang inovasi, Wangchuk dikenal karena mengembangkan rumah lumpur murah yang mampu mempertahankan suhu 15 derajat Celcius meski di luar mencapai minus 15 derajat. Ia juga menciptakan mata air buatan berbentuk stupa es—struktur khas Buddha—yang menyimpan air untuk digunakan petani pada akhir musim semi. Semua inovasinya lahir dari pengalaman pribadi dan kepedulian terhadap masyarakat Ladakh.
Mogok makan memang bukan hal baru dalam politik India, di mana tradisi pengorbanan diri memiliki akar religius yang kuat. Namun, kondisi Wangchuk yang semakin kritis memunculkan pertanyaan: akankah pemerintah Modi merespons tuntutan reformasi pendidikan, atau justru membiarkan seorang aktivis berkaliber internasional mempertaruhkan nyawanya?



