India dan Myanmar Makin Mesra di Tambang Rare Earth: Saingi Dominasi China
Baca dalam 60 detik
- India gandeng Myanmar untuk eksplorasi rare earth guna mengurangi ketergantungan pada pasokan China yang menguasai 60% pasar global.
- Myanmar, pemasok hampir setengah rare earth berat dunia, menjadi mitra strategis India lewat kunjungan delegasi dan pertemuan tingkat tinggi.
- Kerja sama ini berpotensi menggeser rantai pasok rare earth Asia, membuka peluang bagi Indonesia sebagai produsen nikel dan logam baterai.

India dan Myanmar semakin mempererat kerja sama di sektor pertambangan rare earth, langkah yang dinilai sebagai upaya New Delhi mencari alternatif pasokan mineral strategis yang selama ini didominasi China. Dalam pidato di forum pertambangan di Mandalay, Rabu (22/7), Duta Besar India untuk Myanmar Abhay Thakur menyoroti peningkatan signifikan kolaborasi bilateral dalam dua tahun terakhir.
Thakur mengungkapkan bahwa dua delegasi India khusus rare earth dan mineral kritis telah mengunjungi Myanmar pada Desember 2024 dan Februari 2026. Isu ini juga mendapat perhatian tinggi saat kunjungan resmi pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing ke India pada Mei-Juni lalu. โKebutuhan India akan mineral kritis, ditambah manfaat bagi Myanmar dari pertambangan berkelanjutan, menawarkan peluang win-win jangka pendek dan panjang,โ ujar Thakur.
Myanmar memegang peran kunci dalam pasokan rare earth global. Hampir setengah dari pasokan rare earth berat dunia berasal dari tambang di Negara Bagian Kachin, Myanmar utara. Mineral tersebut kemudian dikirim ke China untuk diproses menjadi magnet yang digunakan pada kendaraan listrik dan turbin angin. Selama ini China menguasai lebih dari 60% produksi dan pemrosesan rare earth global, membuat negara lain seperti India berupaya mendiversifikasi sumber pasokan.
Langkah India ini tidak lepas dari upaya mengurangi ketergantungan pada China yang kerap menggunakan rare earth sebagai alat geopolitik. Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa India telah mencari sampel rare earth melalui Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), kelompok bersenjata yang menguasai pusat pertambangan utama di perbatasan China. Thakur menyebut perusahaan India seperti IREL (BUMN pertambangan) dan Midwest Advanced Materials telah terlibat dalam diskusi untuk mengeksplorasi pengumpulan dan pengangkutan sampel dari tambang di bawah kendali KIA.
Bagi Indonesia, kerja sama India-Myanmar ini memiliki implikasi strategis. Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia yang juga menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Jika India berhasil mengamankan pasokan rare earth dari Myanmar, hal ini dapat memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai hub mineral kritis, sekaligus mendorong persaingan dengan China. Namun, stabilitas politik Myanmar yang masih rapuh dan keterlibatan kelompok pemberontak menjadi risiko yang harus diantisipasi.
Ke depan, kerja sama ini diperkirakan akan semakin intensif seiring dengan permintaan global terhadap rare earth yang diproyeksikan meningkat drastis seiring transisi energi. Pertanyaannya, mampukah India dan Myanmar membangun rantai pasok yang stabil di tengah ketidakpastian politik dan keamanan di Myanmar?



