Samantha Morton: Perbandingan dengan Heath Ledger Terasa Pahit Manis
Baca dalam 60 detik
- Aktris Samantha Morton mengaku terharu saat disamakan dengan mendiang Heath Ledger oleh sutradara Christopher Nolan.
- Morton nyaris beradu peran dengan Ledger di film The Brothers Grimm, namun gagal karena campur tangan Harvey Weinstein.
- Ia menolak pandangan tradisional yang menjadikan Circe sebagai tokoh jahat, dan melihatnya sebagai representasi perempuan kompleks.

Perbandingan dengan aktor legendaris seperti Heath Ledger bisa menjadi pujian sekaligus pengingat akan peluang yang terlewatkan. Hal itulah yang dirasakan Samantha Morton, aktris yang memerankan Circe dalam film terbaru Christopher Nolan, The Odyssey. Nolan baru-baru ini mengungkapkan bahwa para kru bertepuk tangan setelah syuting salah satu adegan Morton—reaksi yang sebelumnya hanya ia saksikan saat syuting The Dark Knight Rises bersama Ledger.
Bagi Morton, perbandingan itu terasa “bittersweet” atau pahit manis. Ia mengaku sangat emosional mendengar komentar Nolan, karena selama ini ia selalu ingin bekerja sama dengan Ledger. Keduanya nyaris beradu peran dalam film The Brothers Grimm (2005), namun Morton digantikan oleh Lena Headey atas desakan produser Harvey Weinstein. “Saya dan Heath sempat menghabiskan waktu bersama, juga dengan Matt Damon, di Roma. Saya sangat ingin bekerja dengannya dan Matt, tapi tidak jadi. Hal-hal memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan,” ujar Morton kepada Entertainment Weekly.
Momen syuting yang mendapat sambutan meriah dari kru itu, menurut Morton, adalah “sihir sinema sejati”. Ia menggambarkannya sebagai peristiwa langka di mana segala elemen berpadu sempurna. “Seperti perpaduan bintang, di mana semuanya berfungsi,” tambahnya.
Dalam wawancara yang sama, Morton juga memberikan pandangannya tentang karakter Circe yang diperankannya. Berbeda dengan tradisi penerjemahan The Odyssey yang kerap menampilkan Circe sebagai penyihir jahat, Morton menolak label tersebut. “Saat membaca naskah, saya merasa ini seperti cerita ibu, saudara perempuan, anak perempuan, atau nenek saya. Anda bisa membuka koran dan menemukan wanita yang Anda kenali dalam diri Circe,” katanya. Ia menambahkan bahwa pelajaran hidup sering datang dengan cara yang aneh, dan tidak selalu hitam-putih seperti anggapan bahwa Circe sekadar penjahat.
Pandangan Morton ini relevan dengan diskusi yang lebih luas tentang kompleksitas karakter perempuan di layar lebar. Di Indonesia, di mana industri perfilman terus berkembang, interpretasi ulang terhadap tokoh-tokoh klasik bisa menjadi inspirasi bagi sineas lokal untuk menghadirkan narasi yang lebih bernuansa. Apalagi, publik Indonesia semakin kritis terhadap penggambaran perempuan yang stereotip, baik di film maupun sinetron.
Dengan The Odyssey yang dijadwalkan rilis tahun depan, perhatian publik tertuju pada bagaimana Nolan akan menyajikan epik Homer ini. Akankah Circe versi Morton menjadi salah satu sorotan utama? Atau justru perbandingan dengan Heath Ledger yang akan terus membayangi kariernya? Yang jelas, Morton telah membuktikan bahwa ia mampu meninggalkan kesan mendalam, bahkan sebelum filmnya tayang.



