Hannah Yeoh Puji Petugas DBKL Bersihkan Dataran Merdeka, Ingatkan Tanggung Jawab Warga
Baca dalam 60 detik
- Menteri Hannah Yeoh mengapresiasi kerja keras DBKL membersihkan sampah di Dataran Merdeka usai nonton bareng final Piala Dunia 2026.
- Ia menegaskan membuang sampah pada tempatnya adalah kewajiban dasar warga, bukan semata tugas petugas kebersihan.
- Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya partisipasi publik dalam menjaga ruang publik sebagai cermin kemajuan bangsa.

Menteri di Departemen Perdana Menteri (Wilayah Federal) Hannah Yeoh memberikan apresiasi kepada petugas Dewan Kota Kuala Lumpur (DBKL) yang bekerja keras membersihkan Dataran Merdeka setelah area tersebut dipenuhi sampah usai pemutaran langsung final Piala Dunia 2026, Senin (20/7) dini hari. Ia sekaligus mengingatkan masyarakat untuk turut bertanggung jawab menjaga kebersihan ruang publik.
Dalam unggahan di Facebook, Hannah menekankan bahwa membuang sampah ke tempat yang disediakan adalah kewajiban sipil dasar yang tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada petugas kebersihan. "Ya, saya tahu setiap pembayar pajak berhak mendapat layanan publik yang baik. DBKL harus memenuhi tanggung jawabnya, dan mereka sudah melakukannya. Tapi membuang sampah ke tong adalah hal yang harus kita lakukan sendiri," tulisnya.
Hannah menegaskan bahwa hak menerima layanan publik tidak berarti semua tanggung jawab bisa dialihkan kepada pekerja umum. "Mereka tidak seharusnya membersihkan sampah yang sengaja kita tinggalkan," ujarnya. Dataran Merdeka, menurut Hannah, adalah bagian dari sejarah bangsa dan simbol martabat ibu kota yang harus dijaga bersama.
Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Perdana Menteri Anwar Ibrahim bahwa kemajuan suatu negara tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari cara warganya menghormati dan merawat ruang publik. "Kuala Lumpur adalah rumah kita. Jangan mengotori rumah sendiri lalu berharap orang lain membersihkannya," kata Hannah.
Insiden ini memicu diskusi tentang kesadaran warga kota dalam menjaga kebersihan. Banyak warganet mendukung pernyataan Hannah, namun sebagian menilai pemerintah perlu menyediakan lebih banyak tempat sampah dan edukasi. Di Indonesia, persoalan serupa kerap muncul saat acara publik besar, seperti konser atau pertandingan olahraga, yang meninggalkan gunungan sampah. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan kebersihan ruang publik bersifat universal dan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
Ke depan, langkah konkret seperti penambahan fasilitas kebersihan dan kampanye kesadaran publik dinilai perlu diperkuat. Apakah warga Kuala Lumpur akan lebih disiplin membuang sampah setelah teguran ini? Ataukah perlu ada sanksi tegas untuk menanamkan tanggung jawab kolektif?



