Rubio-Lavrov Bertemu di Manila: AS Coba Hidupkan Kembali Peran Mediasi Perang Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menlu Rusia Sergey Lavrov menggelar pertemuan bilateral di sela KTT ASEAN di Manila, Kamis (23/7).
- Pembicaraan difokuskan pada upaya menghidupkan kembali negosiasi damai Rusia-Ukraina yang mandek, serta isu Laut China Selatan dan Timur Tengah.
- Pertemuan ini terjadi di tengah ketegangan baru di Laut China Selatan dan uji coba rudal China yang dikritik Australia sebagai provokatif.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan mitranya dari Rusia Sergey Lavrov duduk bersama di Manila, Kamis (23/7), dalam pertemuan yang diharapkan dapat membuka kembali peluang Washington untuk memediasi penyelesaian perang di Ukraina. Pembicaraan berlangsung di sela-sela pertemuan tahunan para menteri luar negeri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Baik AS maupun Rusia belum memberikan pernyataan resmi mengenai isi pertemuan tertutup tersebut. Namun, Rubio sehari sebelumnya mengakui bahwa upaya mediasi AS terhadap konflik Ukraina "agak mereda dalam beberapa bulan terakhir" karena perhatian dunia beralih ke perang di Timur Tengah. Meski demikian, ia menegaskan Washington tetap terbuka untuk memainkan peran jika ada kesempatan.
"Kami harus memiliki hubungan dengan pemerintah Rusia, meskipun ada area ketidaksepakatan," ujar Rubio kepada wartawan di Manila, Rabu (22/7). Ia juga menekankan bahwa kedua negara merupakan negara dengan persenjataan nuklir terbesar di dunia. Sementara itu, Lavrov menyatakan akan menanyakan kepada Rubio mengenai pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memperkirakan kesepakatan damai semakin dekat.
Pertemuan bilateral ini tidak hanya membahas Ukraina. Rubio mengisyaratkan akan menjajaki area kerja sama potensial lain antara AS dan Rusia, seperti yang biasa dibahas dalam pertemuan sela ASEAN. Namun, agenda utama tetap pada upaya menghidupkan kembali perundingan yang terhenti, terutama setelah Ukraina menunjukkan kemajuan signifikan di medan perang tahun ini, meskipun ada keretakan internal di pucuk pimpinan pertahanannya. Presiden Volodymyr Zelenskyy baru saja melakukan perombakan kabinet, termasuk mengganti sejumlah petinggi militer.
Di luar isu Ukraina, pertemuan tersebut juga menjadi ajang diskusi mengenai ketegangan di Laut China Selatan. Rubio sebelumnya telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Rabu (22/7) dan membahas insiden terbaru antara kapal China dan Filipina di sebuah gosong karang yang disengketakan. Rubio menyebut insiden itu sebagai tindakan eskalatif. "Hal-hal itu perlu dikelola dengan sangat hati-hati, karena konflikโbaik ekonomi maupun lainnyaโantara AS dan China akan berdampak dramatis secara global," kata Rubio.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong kembali menyuarakan kekhawatiran atas uji coba rudal dari kapal selam bertenaga nuklir China di kawasan tersebut. Wong menilai China tidak memberikan informasi dan pemberitahuan yang memadai, termasuk kepada Filipina yang dilintasi rudal tersebut. "Ini terjadi dalam konteks pembangunan militer cepat arsenal nuklir China tanpa transparansi atau jaminan yang diharapkan kawasan," ujar Wong di sebuah forum universitas di Manila. China membela tindakannya dengan menyebut peluncuran itu bagian dari latihan tahunan dan telah memberi pemberitahuan yang sesuai sebelumnya.
"Kami harus memiliki hubungan dengan pemerintah Rusia, meskipun ada area ketidaksepakatan." โ Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Bagi Indonesia, dinamika di Laut China Selatan dan upaya mediasi AS-Rusia memiliki implikasi langsung. Sebagai anggota ASEAN, Indonesia turut serta dalam negosiasi Kode Etik (Code of Conduct) di Laut China Selatan yang bertujuan mencegah konflik terbuka di jalur perdagangan vital tersebut. Para menteri luar negeri ASEAN menyambut baik kemajuan negosiasi dengan China, yang diharapkan dapat diselesaikan tahun ini. Namun, ketegangan yang terus berulang antara Beijing dan Manila, serta uji coba rudal China, menunjukkan bahwa stabilitas kawasan masih rapuh. Pertemuan Rubio-Lavrov juga menjadi sinyal bahwa AS, meskipun sibuk di Timur Tengah, tidak sepenuhnya meninggalkan perannya sebagai penyeimbang di kawasan Indo-Pasifik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pertemuan Manila ini akan cukup untuk menghidupkan kembali mekanisme perdamaian Ukraina yang mandek, atau justru akan menjadi ajang saling tuding baru antara Washington dan Moskow. Sementara itu, ketegangan di Laut China Selatan terus menguji soliditas ASEAN dan kesabaran negara-negara pengklaim.



