Rupiah Kembali Tertekan ke Rp17.930, Konflik Timur Tengah dan Sinyal The Fed Jadi Beban
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 0,25% ke Rp17.930 per dolar AS pada Senin (20/7/2026), membalikkan penguatan akhir pekan lalu.
- Eskalasi konflik Timur Tengah mendorong harga minyak dan permintaan dolar sebagai aset aman, membatasi ruang apresiasi mata uang emerging market.
- Pasar menanti keputusan suku bunga The Fed (29 Juli) dan BI (22 Juli) di tengah perbedaan pandangan pejabat The Fed soal perlunya kenaikan suku bunga.

Nilai tukar rupiah kembali kehilangan momentum penguatannya pada perdagangan awal pekan ini, Senin (20/7/2026), ditutup melemah 0,25% ke posisi Rp17.930 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan tersebut membalikkan tren positif yang terjadi pada akhir pekan lalu, ketika rupiah sempat menguat 0,53% ke level Rp17.885.
Sepanjang hari, rupiah bergerak dalam tekanan cukup dalam. Pada pembukaan pagi, mata uang Garuda langsung terdepresiasi 0,42% ke Rp17.960, bahkan sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.990. Meski perlahan memangkas pelemahan menjelang penutupan, tekanan terhadap rupiah masih terasa signifikan. Indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di kisaran 100,765 pada pukul 15.00 WIB, menunjukkan permintaan terhadap greenback tetap kokoh.
Dua faktor utama menjadi penekan rupiah. Pertama, eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu aksi risk-off di pasar global. Ketegangan geopolitik itu mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Akibatnya, ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas. Kedua, ketidakpastian arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) masih membayangi.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menahan suku bunga pada pertemuan 29 Juli mencapai 85,6%, naik tajam dari 61,5% sebulan lalu. Namun, pernyataan Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, pada Jumat pekan lalu menambah keraguan. Ia bergabung dengan sejumlah pejabat lain yang menilai suku bunga mungkin perlu dinaikkan lagi untuk meredam inflasi yang masih tinggi. Pernyataan ini membuka peluang perdebatan sengit dalam rapat The Fed mendatang, sekaligus potensi perbedaan suara pada pertemuan kedua Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Di sisi domestik, pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan pada Rabu (22/7/2026). BI telah menaikkan suku bunga acuan total 100 basis poin sejak Mei 2026, dengan kenaikan terakhir 25 basis poin pada 18 Juni. Kenaikan itu merupakan respons atas tekanan terhadap rupiah yang sempat memicu rapat darurat pada 9 Juni. Keputusan BI pekan ini akan menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar mengenai komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, pelemahan rupiah ini berpotensi meningkatkan beban impor, terutama bahan baku dan energi, serta memicu tekanan inflasi. Di sisi lain, eksportir bisa diuntungkan dari nilai tukar yang lebih lemah. Namun, ketidakpastian global dan domestik membuat prospek rupiah dalam jangka pendek masih rapuh.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada hasil pertemuan The Fed dan BI. Jika The Fed mempertahankan suku bunga dan BI kembali menaikkan suku bunga, rupiah mungkin bisa kembali menguat. Namun, jika konflik Timur Tengah terus memanas dan harga minyak melonjak, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar. Pertanyaannya, sejauh mana BI bersedia mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas nilai tukar?



