Kredit Bank Mandiri Tumbuh 19,9% di Kuartal II-2026, Nyaris Dua Kali Lipat Rata-Rata Industri
Baca dalam 60 detik
- Bank Mandiri membukukan pertumbuhan kredit 19,9% year-on-year menjadi Rp1.592 triliun pada kuartal II-2026, jauh di atas rata-rata industri perbankan nasional.
- Rasio kredit bermasalah (NPL) perseroan hanya 0,15%, menandakan kualitas aset yang terjaga di tengah ekspansi agresif.
- Optimisme terhadap fundamental makro dan fokus pada sektor produktif menjadi pendorong utama kinerja intermediasi bank pelat merah ini.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 19,9% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal II-2026, mencapai Rp1.592 triliun. Angka ini hampir dua kali lipat dari laju pertumbuhan kredit industri perbankan nasional, menegaskan posisi bank pelat merah tersebut sebagai motor intermediasi di tengah ketidakpastian global.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengaitkan pencapaian ini dengan ketahanan ekonomi domestik yang tetap solid. Dalam paparan kinerja secara daring, Kamis (23/7/2026), ia menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diproyeksikan masih di atas 5%, didorong oleh akselerasi penerimaan dan belanja negara. "Fundamental tersebut kami harapkan mampu menjaga kepercayaan investor dan memperkuat nilai tukar rupiah," ujarnya.
Pertumbuhan kredit Bank Mandiri tidak hanya agresif secara kuantitas, tetapi juga terarah pada sektor riil. Riduan menekankan bahwa penyaluran kredit difokuskan pada sektor produktif dan padat karya, terutama segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Realisasi kredit UMKM perseroan tumbuh signifikan dan melampaui rata-rata industri, sejalan dengan upaya pemerintah mendorong inklusi keuangan dan penciptaan lapangan kerja.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 17,1% secara tahunan, juga melampaui pertumbuhan industri. Meski ekspansi kredit berlangsung cepat, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) hanya 0,15%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan, yang menunjukkan disiplin tinggi dalam manajemen risiko.
Riduan optimistis bahwa kombinasi pertumbuhan kredit yang inklusif, kualitas aset yang prima, dan dukungan fundamental makroekonomi yang kuat akan memungkinkan Bank Mandiri terus menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. "Kami yakin dapat memberikan kontribusi positif dan signifikan dalam memperkuat ekonomi nasional yang berkelanjutan," tegasnya.
Bagi investor dan pelaku pasar, kinerja Bank Mandiri ini menjadi indikator penting. Pertumbuhan kredit yang melampaui industri menandakan permintaan pembiayaan yang masih kuat, terutama dari sektor produktif. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah laju ini dapat dipertahankan hingga akhir tahun mengingat tekanan global dan potensi perlambatan ekonomi di negara maju. Bank Mandiri tampaknya telah menyiapkan strategi dengan fokus pada ekosistem prioritas, namun dinamika eksternal tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.



