Ekspor Chip Dorong Ekonomi Korsel Tumbuh di Atas Ekspektasi pada Kuartal II
Baca dalam 60 detik
- PDB Korea Selatan kuartal II-2024 tumbuh 0,6% (qoq), melampaui perkiraan 0,4%, ditopang lonjakan ekspor semikonduktor.
- Bank of Korea tetap hawkish: suku bunga diperkirakan naik ke 3,25% pada awal 2027 seiring inflasi yang masih tinggi.
- Pertumbuhan yang didorong chip ini menjadi sinyal positif bagi rantai pasok global, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor komponen elektronik.

Perekonomian Korea Selatan mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal kedua tahun ini, didorong oleh ledakan ekspor semikonduktor yang mampu mengimbangi pelemahan di sektor konstruksi. Data estimasi awal dari Bank of Korea (BOK) yang dirilis Kamis (23/7) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) negeri ginseng tumbuh 0,6 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter) pada periode April–Juni, melampaui median estimasi Reuters sebesar 0,4 persen.
Meskipun angka tersebut melambat tajam dibandingkan pertumbuhan 1,8 persen pada kuartal pertama, hasil ini mengindikasikan bahwa sektor chip tetap menjadi mesin utama perekonomian. BOK sendiri telah memulai siklus pengetatan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Juli lalu. Inflasi yang masih tinggi—berada di level tertinggi dalam 2,5 tahun—mendorong mayoritas analis memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun, yang akan membawa suku bunga acuan ke 3,00 persen. Bahkan, berdasarkan jajak pendapat Reuters, suku bunga diperkirakan naik ke 3,25 persen pada kuartal pertama 2027 dan bertahan hingga akhir tahun depan.
Seorang pejabat BOK dalam konferensi pers menyatakan bahwa selama rata-rata pertumbuhan kuartalan di semester kedua tidak lebih rendah dari minus 0,1 persen, target pertumbuhan tahunan sebesar 3 persen masih mungkin tercapai. Bank sentral sebelumnya telah merevisi proyeksi pertumbuhan 2024 menjadi 2,6 persen pada Mei lalu, dan angka tersebut akan diperbarui kembali pada Agustus mendatang.
Dari sisi pengeluaran, ekspor menjadi motor utama dengan pertumbuhan 1,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama didorong oleh pengiriman semikonduktor, mesin, dan peralatan. Sementara itu, konsumsi swasta hanya tumbuh 0,4 persen, dan investasi konstruksi justru terkontraksi 0,2 persen. Pola ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi Korsel masih bergantung pada permintaan eksternal, khususnya dari sektor teknologi global.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai salah satu importir utama komponen semikonduktor dan mesin dari Korea Selatan, lonjakan ekspor Korsel dapat mempengaruhi harga dan ketersediaan pasokan di dalam negeri. Di sisi lain, jika BOK terus menaikkan suku bunga, hal itu berpotensi memperkuat won dan membuat produk Korea lebih mahal bagi importir Indonesia. Namun, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Korsel yang solid merupakan kabar baik bagi rantai pasok regional, termasuk bagi industri manufaktur dan teknologi Indonesia yang terintegrasi dengan ekosistem global.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah sektor semikonduktor mampu mempertahankan momentumnya di tengah ketidakpastian permintaan global dan potensi perlambatan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama. Dengan inflasi yang masih panas dan suku bunga yang diperkirakan terus naik, keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan mengendalikan harga akan menjadi ujian bagi BOK dalam beberapa bulan mendatang.



